AYOJAKARTA.COM - Bergabungnya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ke Koalisi Indonesia Maju (KIM Plus) membuat Anies Baswedan dipastikan batal untuk maju dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta 2024.
Padahal, pada akhir Juni lalu PKS telah menyatakan dukungan dan menyiapkan calon pendamping Anies Baswedan untuk maju di Pilgub Jakarta 2024.
Pengamat Politik, Refly Harun mengatakan bahwa selama 10 tahun berada di oposisi pemerintahan Presiden Joko Widodo, PKS ‘lulus’ dalam menegakkan etika dan moral dalam politik, tidak tergoda dalam kekuasaan tukar tambah dan negosiasi.
Sayangnya, sejak PKS memutuskan untuk mendukung Bobby Nasution di Sumatera Utara moralitasnya dipertanyakan.
Sehingga ketika PKS memilih untuk mendukung Bobby Nasution muncul kekecewaan yang luar biasa.
Namun, ia melihat kekecewaan tersebut belum sampai menyentuh warga Jakarta yang lebih kritis dan rasional.
Menurut Refly Harun, inilah yang menyebabkan KIM Plus khawatir sehingga memborong partai politik dengan mengajak tukar tambah agar Anies Baswedan tidak bisa berlayar di Pilgub Jakarta.
“Makanya KIM Plus khawatir tidak cukup dengan hanya politik gentong babi untuk mengalahkan Anies di Jakarta, harus dengan menggagalkan Anies itu sendiri. Ketika menggagalkan Anies adalah dengan memborong semua partai politik, mengajak tukar tambah semua partai politik yang ada,” kata Refly harun dikutip dari kanal YouTube Refly Harun pada Selasa (20/8/2024).
Baca Juga: Viral Mpox Mulai Mewabah di Indonesia, Minum Racikan 3 Bahan Herbal Ini Agar Tak Tertular
Refly menilai bahwa PKS adalah partai politik yang diharapkan untuk menjaga marwahnya, tetapi kini terlibat dalam politik tukar tambah.
Padahal, PKS masih bisa mendapatkan posisi wakil gubernur apabila mereka mau bertahan dengan Anies.
“PKS sebagai partai yang kita harapkan untuk menjaga marwahnya ternyata mau terlibat dengan tukar tambah tersebut. Tukar tambah yang paling umum adalah tukar tambah jabatan wakil gubernur. Padahal di Anies pun PKS masih akan mungkin dapat wakil gubernur tersebut kalau mereka mau bertahan,” ujarnya.
Refly menilai seharusnya PKS bisa mencari partai koalisi bersama dengan Anies dan lebih bersabar.
Terlebih, pada saat itu Partai Nasional Demokrat (NasDem) sudah memberikan lampu hijau kepada Anies untuk menentukan wakilnya sendiri.
Menurutnya, ini merupakan peluang baik untuk PKS karena pada saat itu sudah menentukan wakil untuk Anies.
“Kenapa PKS kemudian tidak bersabar dan kita semua mendapatkan informasi bahwa Nasdem menyerahkan kepada Anies untuk memilih wakilnya. Bukankah itu peluang bagi PKS untuk terus memepet Nasdem? Apalagi Sohibul Iman mengatakan bahwa nama Sohibul Iman sendiri keluar dari Surya Paloh,” tutupnya.***

Share this article
Diduga PKS rela tinggal Anies Baswedan karena tergoda politik tukar tambah, Refly Harun angkat bicara, begini katanya.