AYOJAKARTA.COM – Besarnya jumlah pemilih generasi muda yang mencapai angka 50 persen, membuat kontestan Pilkada Jakarta menerapkan berbagai strategi.
Selain untuk memperbesar elektabilitas perolehan suara Pilkada Jakarta, upaya ketiga cagub-cawagub meraih dukungan generasi muda juga bagian dari strategi pemenangan.
Sehubungan dengan besarnya potensi dukungan suara dari generasi muda di ajang Pilkada Jakarta, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia memberi tanggapan.
Menurut Burhanudin Muhtadi, jumlah angka statistik dari kalangan muda baik gen Z maupun Milenial berpengaruh besar dalam proses pemilu.
Meski usia bukan merupakan faktor dominan dalam proses pemilihan, namun kuantitas generasi muda secara elektoral sangat menjanjikan.
Karena itu upaya-upaya strategis dari para peserta Pilkada Jakarta dalam meraih dukungan merupakan hal yang wajar dan patut diapresiasi.
“Jumlahnya yang sangat besar, sehingga sangat bisa dimaklumi kalau para calon mencoba menggarap habis-habisan segmen pemilih ini,” ungkapnya, dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV, Senin, 11 November 2024.
Lebih lanjut, Burhanudin mengungkapkan masih cukup banyak ruang kosong yang belum secara optimal digarap oleh para kontestan Pilkada Jakarta.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia, sejumlah isu sentral di kalangan muda masih belum sepenuhnya tersentuh.
Salah satu isu paling krusial dan fundamental yang jarang disentuh oleh para peserta Pilkada Jakarta adalah lapangan pekerjaan.
“Isu lapangan pekerjaan dianggap paling mendesak untuk segera diatasi oleh calon Gubernur Jakarta,” imbuhnya.
Disamping isu lapangan pekerjaan, aspek lain yang menjadi fokus bagi kaum muda menurut Burhanudin Muhtadi adalah pemberantasan korupsi.
Terkait dengan kedua isu sentral yang disampaikan Direktur Eksekutif IPI, Musthofa Faruq selaku jubir Rido memberi tanggapan.
Menurut Mustofa, selain menginisiasi mobil curhat dan tempat ngopi bagi generasi muda, Rido juga kerap merangkul sejumlah Influencer dalam kampanye.
Disamping untuk menggaet minat generasi muda, keterlibatan tokoh kenamaan juga merupakan bagian dari upaya mensosialisasikan program.
“Sekitar 80 persen pemilih muda di Jakarta pendidikannya SMA ke atas, sehingga perlu metode kampanye gagasan dan dialog,” jelas Mustofa.
Sementara menurut La Ode Basir selaku jubir Pramono-Rano, generasi muda Jakarta dikenal karena sangat akrab dengan dunia digital atau teknologi informasi.
Selain erat dengan dunia digital, pemilih muda di Jakarta juga memiliki tingkat kreativitas tinggi sehingga memiliki semangat besar dalam melakukan perubahan.
Karena itu upaya yang dilakukan oleh pasangan Pramono-Rano menurut La Ode, adalah dengan mensinergikan sejumlah faktor tersebut.
“Sehingga visi besarnya adalah bagaimana menjadikan pemuda dan pemudi Jakarta ini berpotensi mandiri,” ungkap La Ode.***

Share this article
Besarnya jumlah pemilih generasi muda yang mencapai angka 50 persen, membuat kontestan Pilkada Jakarta menerapkan berbagai strategi.