AYOJAKARTA.COM - Jakarta sebagai ibu kota Indonesia kini tengah menghadapi ancaman serius dari perubahan iklim yang dampaknya sudah sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Kota dengan lebih dari 10 juta penduduk ini dikenal memiliki sejarah panjang soal banjir, terutama saat musim penghujan tiba.
Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa "Perubahan iklim memicu banyak kejadian alam yang memang di luar kebiasaan sebelum sebelumnya. Di luar kenormalan."
Kota dengan lebih dari 10 juta penduduk ini dikenal memiliki sejarah panjang soal banjir, terutama saat musim penghujan tiba.
Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa "Perubahan iklim memicu banyak kejadian alam yang memang di luar kebiasaan sebelum sebelumnya. Di luar kenormalan."
Baca Juga: Ini Dia! 4 Bansos Masih Cair Agustus 2025, Penyaluran Diantar Langsung ke Rumah KPM
Fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, seperti hujan deras dalam waktu singkat, membuat genangan dan banjir menjadi masalah rutin yang harus dihadapi warga Jakarta.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya emisi gas rumah kaca dari kendaraan bermotor, industri, dan aktivitas perkotaan lainnya yang membuat kualitas udara Jakarta semakin memburuk.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya menyadari bahwa pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk mengatasi masalah yang semakin kompleks ini.
Merespons tantangan tersebut, Jakarta telah menyusun rencana aksi iklim yang komprehensif dengan tiga pilar utama yang saling mendukung.
1. Pengurangan emisi gas rumah kaca melalui berbagai program inovatif seperti pengembangan sistem transportasi publik yang lebih masif dan ramah lingkungan, pembatasan kendaraan bermotor pribadi, serta penerapan teknologi hijau di berbagai sektor.
Fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, seperti hujan deras dalam waktu singkat, membuat genangan dan banjir menjadi masalah rutin yang harus dihadapi warga Jakarta.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya emisi gas rumah kaca dari kendaraan bermotor, industri, dan aktivitas perkotaan lainnya yang membuat kualitas udara Jakarta semakin memburuk.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya menyadari bahwa pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk mengatasi masalah yang semakin kompleks ini.
Merespons tantangan tersebut, Jakarta telah menyusun rencana aksi iklim yang komprehensif dengan tiga pilar utama yang saling mendukung.
1. Pengurangan emisi gas rumah kaca melalui berbagai program inovatif seperti pengembangan sistem transportasi publik yang lebih masif dan ramah lingkungan, pembatasan kendaraan bermotor pribadi, serta penerapan teknologi hijau di berbagai sektor.
Baca Juga: Tahan Air dan Debu, Intip Fitur Unggulan Realme Note 70T yang Dijual Mulai Rp1 Jutaan
Program "tidak membuang sampah sembarangan, menggunakan transportasi publik untuk mengurangi pemanasan global" menjadi kampanye yang gencar dilakukan untuk mengubah perilaku masyarakat.
2. Penambahan ruang hijau yang strategis dan berkelanjutan, salah satunya melalui program Kampung Proklim (Program Kampung Iklim) di sejumlah wilayah Jakarta.
Program ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih hijau di tingkat RT/RW, dengan menanam berbagai jenis tanaman yang dapat menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen.
3. Peningkatan sistem pengendalian banjir yang lebih modern dan efektif, termasuk pembangunan infrastruktur drainase yang lebih baik, sistem peringatan dini yang akurat, dan pemetaan risiko banjir secara presisi menggunakan teknologi terkini.
Keberhasilan program mitigasi krisis iklim Jakarta sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, akademisi, dan partisipasi aktif masyarakat.
Program "tidak membuang sampah sembarangan, menggunakan transportasi publik untuk mengurangi pemanasan global" menjadi kampanye yang gencar dilakukan untuk mengubah perilaku masyarakat.
2. Penambahan ruang hijau yang strategis dan berkelanjutan, salah satunya melalui program Kampung Proklim (Program Kampung Iklim) di sejumlah wilayah Jakarta.
Program ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih hijau di tingkat RT/RW, dengan menanam berbagai jenis tanaman yang dapat menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen.
3. Peningkatan sistem pengendalian banjir yang lebih modern dan efektif, termasuk pembangunan infrastruktur drainase yang lebih baik, sistem peringatan dini yang akurat, dan pemetaan risiko banjir secara presisi menggunakan teknologi terkini.
Keberhasilan program mitigasi krisis iklim Jakarta sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, akademisi, dan partisipasi aktif masyarakat.
Baca Juga: Padel Gratis hingga Jogging Track untuk Warga Jakarta, Intip Fasilitas yang Dibangun di Taman Bendera Pusaka
Luki Subehi, Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menegaskan pentingnya pendekatan holistik dalam mengatasi masalah ini.
Menurutnya, "Pengendalian banjir di Jakarta perlu ditingkatkan dengan pemetaan risiko secara presisi, implementasi program mitigasi serta penguatan sistem peringatan dini. Edukasi tentang banjir dan perubahan iklim juga sebaiknya sudah dimulai sejak anak-anak, untuk menyadari peran mereka dalam menjaga alam."
Program Kampung Proklim yang kini hadir di sejumlah wilayah Jakarta merupakan salah satu bentuk nyata aksi masyarakat dalam berkontribusi mengatasi perubahan iklim.
Kampung-kampung ini tidak hanya berfungsi sebagai penyumbang oksigen dan penyerap polusi, tetapi juga menjadi contoh konkret bagaimana komunitas lokal dapat berperan aktif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Komitmen Jakarta untuk menjadi kota ramah lingkungan ini menunjukkan keseriusan dalam menghadapi tantangan global yang membutuhkan aksi lokal.
Dengan harapan dapat menjadi model bagi kota-kota besar lainnya di Indonesia dalam menghadapi krisis iklim yang semakin mendesak.***
Luki Subehi, Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menegaskan pentingnya pendekatan holistik dalam mengatasi masalah ini.
Menurutnya, "Pengendalian banjir di Jakarta perlu ditingkatkan dengan pemetaan risiko secara presisi, implementasi program mitigasi serta penguatan sistem peringatan dini. Edukasi tentang banjir dan perubahan iklim juga sebaiknya sudah dimulai sejak anak-anak, untuk menyadari peran mereka dalam menjaga alam."
Program Kampung Proklim yang kini hadir di sejumlah wilayah Jakarta merupakan salah satu bentuk nyata aksi masyarakat dalam berkontribusi mengatasi perubahan iklim.
Kampung-kampung ini tidak hanya berfungsi sebagai penyumbang oksigen dan penyerap polusi, tetapi juga menjadi contoh konkret bagaimana komunitas lokal dapat berperan aktif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Komitmen Jakarta untuk menjadi kota ramah lingkungan ini menunjukkan keseriusan dalam menghadapi tantangan global yang membutuhkan aksi lokal.
Dengan harapan dapat menjadi model bagi kota-kota besar lainnya di Indonesia dalam menghadapi krisis iklim yang semakin mendesak.***
Share this article
Program Kampung Proklim yang kini hadir di sejumlah wilayah Jakarta merupakan salah satu bentuk nyata aksi masyarakat