AYOJAKARTA.COM – Kasus terbunuhnya Brigadir Yoshua (J) yang menyeret nama Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi benar-benar menyita banyak waktu,pikiran serta kuota publik di Indonesia.
Bermula dari dugaan tindakan pelecehan yang dilakukan oleh Brigadir J kepada istri Kadiv Propam Ferdy Sambo, Putri Candrawathi.
Di persidangan, tewasnya Brigadir J justru bercabang menjadi dugaan perselingkuhan antara Putri Candrawathi dengan supir pribadi Kuat Maruf.
Bahkan tidak sedikit publik yang mempercayai kalau hubungan asmara tersembunyi antara Putri Candrawathi dengan Kuat Maruf sudah melewati batas kewajaran.
Deretan fakta inilah yang membuat masyarakat hanya bisa menggelengkan kepala, sebab benar-benar terjadi di dunia nyata dan bukan seperti yang mereka lihat dari layar kaca.
Kronologis Sambo dan Putri dari korban hingga menjadi tersangka, kendala yang dialami penyidik dalam mengungkap fakta, sampai pernyataan Presiden Jokowi agar kasus Brigadir J diusut setuntas-tuntasnya.
Baca Juga: Dipertemukan Dalam Persidangan, Tak Menyangka Bharada E Justru Lakukan Hal ini Kepada Bripka RR
Menjadi pekerjaan rumit dan berat bagi institusi kepolisian Republik Indonesia yang citranya sudah terlanjur hancur, wajar jika wajah Kapolri tampak tegang ketika melihat penyanyi cilik Farel Prayoga menggoyang istana negara Jakarta.
Pada awal kasus ini terkuak ke masyarakat, Kamaruddin Simanjuntak selaku kuasa hukum Brigadir J sempat menyatakan bahwa motif intelijen-lah yang menjadi alasan utama.
Pernyataan Kamaruddin tersebut sering disampaikan dalam sejumlah pertemuan dengan awak media massa.
Baca Juga: Nah Lho, Nomor HP Mendiang Brigadir J Keluar dari Grup WA Keluarga Kata Pengacara, Kok Bisa?
“Saya punya data intelijen yang belum terverifikasi, Brigadir J ini tewas bukan karena pelecehan, tetapi karena almarhum tahu terlalu banyak tentang aliran dana Satgassus Merah Putih,” jelas Kamaruddin, tegas, dalam video yang diunggah ulang oleh akun YouTube CATATAN HITAM, 30 September 2022.
Pada kesempatan berbeda, mantan menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin juga angkat bicara tentang adanya instrumen pengumpul uang di dalam tubuh Polri.
“Tidak ada di antara mereka yang punya urusan politik, saya menduga peristiwa ini ada kaitannya dengan jabatan Sambo sebagai Ketua Satgassus,” jelasnya ketika itu.
Hamid Awaludin juga menyarankan agar penanganan kasus Ferdy Sambo dilimpahkan kepada institusi selain Polri, misalnya kepada KPK.
“Bharada E masih anak kemarin sore di kepolisian, berbeda dengan Brigadir J yang sudah delapan tahun menjadi polisi,” ungkap Kamaruddin saat menjelaskan peran Bharada E.
“Mungkin Bharada E belum tahu kalau polisi itu aparat sipil yang berbeda dengan militer, kalau prajurit melanggar perintah komandan itu desersi, pembangkangan, tapi kalau polisi berbeda,” tambahnya.
Kamaruddin percaya, Brigadir J adalah intelijen ganda yang bertugas memata-matai sepak terjang Satgassus dalam mengumpulkan uang lewat bisnis judi online, narkotika, juga tambang ilegal.
Sejak kasus Ferdy Sambo muncul ke permukaan, nama Teddy Minahasa sempat terseret dalam kasus narkoba, Hendra Kurniawan juga disebut dalam kasus tambang Ismail Bolong.
Sementara publik masih penasaran dengan siapa ayah kandung Arka yang diakui ART Susi sebagai anak adopsi.
Warganet kini mempertanyakan hubungan keberadaan Febri Diansyah, mantan Jubir KPK yang berada di kubu Putri Candrawati.***

Share this article
Warganet kini mempertanyakan hubungan keberadaan Febri Diansyah, mantan Jubir KPK yang berada di kubu Putri Candrawathi.