TEBET, AYOJAKARTA - Sejumlah pakar dan ahli epidemiologi sudah mewanti-wanti potensi ancaman gelombang tiga Covid-19 di Indonesia yang diperkirakan terjadi pada akhir tahun 2021.
Ada banyak faktor yang memicu terjadinya potensi lonjakan Covid-19, seperti pelonggaran aktivitas di tengah kasus yang melandai, pembukaan kembali akses masuk turis luar negeri, perubahan cuaca yang memasuki musim penghujan, hingga capaian vaksinasi nasional yang belum maksimal.
Merujuk pada hal itu, pemerintah tak diam berpangku tangan. Mereka kini tengah menyusun strategi dan langkah komprehensif agar ancaman gelombang ketiga Covid-19 tak benar-benar terjadi di tanah air.
Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B. Harmadi mengatakan bahwa salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan terus berusaha meningkatkan kapasitas tes Covid-19.
"Antisipasi gelombang ketiga, testing terus ditingkatkan," kata Sonny dalam keterangannya beberapa waktu lalu, dikutip laman resmi Satgas Covid-19.
Selain meningkatkan kapasitas testing, kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) juga akan tetap diterapkan karena dinilai cukup efektif dalam menekan laju penularan Covid-19.
Diketahui, kasus positif di Indonesia telah mengalami penurunan selama 13 minggu berturut-turut sejak lonjakan kedua. Kasus positif mingguan per 17 Oktober 2021, sejumlah 6.826 kasus. Menurun drastis dibandingkan jumlah kasus saat lonjakan kedua yaitu 350.273 kasus.
Upaya ketiga yakni dengan menggencarkan sosialisasi serta edukasi penerapan protokol kesehatan di masyarakat. Protokol kesehatan yang dimaksud adalah 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak fisik, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas.
Selain itu, pemerintah juga memperketat akses masuk dari luar negeri ke Indonesia untuk mencegah masuknya varian baru.
"Titik masuk kita sudah sangat dibatasi, (akses) udara hanya di Soekarno-Hatta dan Sam Ratulangi, Manado, lalu kemudian darat hanya boleh di Entikong, Aruk, Nunukan dan Motaain di Timor Leste dan laut juga hanya dua, Batam dan Tanjungpinang," ungkap Sonny.
Sama halnya dengan masuknya para pekerja migran Indonesia (PMI). Mereka juga akan langsung menjalani tes PCR setelah tiba di Indonesia.
"Kementerian Kesehatan juga sudah mengirimkan (alat) tes cepat molekuler sehingga kita tidak perlu menunggu lama, dalam waktu satu jam sudah bisa memisahkan orang yang positif (Covid-19) dan yang negatif," katanya.
Kemudian, program vaksinasi juga terus digenjot meskipun saat ini jumlah kasus Covid-19 di Indonesia melandai. Pemerintah menargetkan sasaran vaksinasi sebanyak 208.265.270 jiwa.
Data Kementerian Kesehatan per tanggal 12 Oktober 2021 menyebutkan 101.673.077 telah melakukan penyuntikan dosis tahap 1 atau sekitar 48,82 persen. Adapun untuk yang telah melakukan hingga dosis lengkap atau tahap 2 sebanyak 58.720.535 atau 28,20 persen.
Perhatian Khusus pada Periode Nataru
Periode libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) menjadi perhatian ekstra bagi pemerintah dan semua pihak dalam mengantisipasi lonjakan Covid-19 gelombang ketiga.
Ketua Satgas Penanganan Covid-19 sekaligus Kepala BNPB Ganip Warsito mengatakan, prediksi ini terkait dengan pengalaman sebelumnya dimana pada akhir tahun 2020, Indonesia mengalami lonjakan kasus Covid-19 pertama.
"Ancaman gelombang ketiga yang diprediksi oleh para ahli akan terjadi Desember karena disitulah Nataru, disitulah pergantian cuaca. Ini yang menjadi ancaman peningkatan Covid-19," kata Ganip dalam keterangannya belum lama ini.
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyebutkan bahwa pemerintah saat ini sedang menyusun kebijakan antisipasi libur panjang dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.
"Pembukaan pintu masuk internasional juga akan tetap memperhatikan pemenuhan syarat perjalanan dan mekanisme skrining setelah masuk di Indonesia," kata Wiku dalam keterangannya.
Terkait pencegahan masuknya varian baru ke Indonesia, pemerintah juga terus memantau perkembangan adanya varian asing. Balitbangkes yang didukung 17 laboratorium dengan kemampuan mendukung upaya whole genome sequencing (WGS) akan terus mengoptimalkan sumber daya dan pemantauan distribusi varian diberbagai daerah.
"Nantinya hasil pemantauan akan disampaikan secara transparan kepada masyarakat," ujarnya.
Lebih lanjut ia juga mengimbau agar semua pihak tidak terlena dengan kondisi kasus Covid-19 yang semakin terkendali beberapa pekan terakhir. Termasuk juga pada pemerintah daerah yang diminta serius melakukan pengawasan kegiatan masyarakat.
"Pemerintah daerah juga dapat membantu sosialisasi yang jelas di daerah masing-masing khususnya rincian protokol kesehatan yang harus dijalankan. Ini untuk meminimalisir peluang penularan sebesar-besarnya," kata Wiku.
Oleh sebab itu, untuk mencegah potensi terjadinya gelombang ketiga Covid-19 tidak bisa hanya mengandalkan upaya yang dilakukan pemerintah bersama pihak terkait saja. Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk keberhasilan kita melawan virus Corona.

Share this article
Pemerintah juga memperketat akses masuk dari luar negeri ke Indonesia untuk mencegah masuknya varian baru.