TEBET, AYOJAKARTA -- Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka merupakan salah satu kebijakan dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Pendidikan Tinggi Nadiem Makariem. Salah satu program dari kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka adalah hak belajar tiga semester di luar program studi.
Terdapat 9 program lain yang ditawarkan dalam kebijakan ini. Sembilan program tersebut antara lain, Pertukaran Mahasiswa, Magang, Mengajar di Sekolah, Penelitian, Proyek Kemanusiaan, Kewirausahaan Mahasiswa, Studi/Proyek Mandiri, Membangun Desa, dan Bela Negara/Komp Cadangan.
Latar belakang adanya program ini yaitu untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan sosial, budaya, dunia kerja, dan kemajuan teknologi yang pesat, kompetensi mahasiswa sesuai kebutuhan zaman, dan link and match dengan dunia industri, dunia kerja, dan dengan masa depan yang berubah sangat cepat.
Kali ini, Ayojakarta berhasil mewawancara tiga mahasiswa yang memilih program Mengajar di Sekolah dari kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka. Mereka menceritakan pengalaman berharga mereka untuk ikut merasakan proses belajar-mengajar di sekolah yang mempunyai keterbatasan dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Kemenristek Dikti memprioritaskan program ini untuk jenjang SD yang berada di wilayah 3T dan masih mempunyai akreditasi C. Hal itu guna membantu proses belajar-mengajar, administrasi, dan adaptasi teknologi.
Dorongan Untuk Lebih Berkontribusi Terhadap Dunia Pendidikan
Rizki Nurfaizah merupakan salah satu mahasiswa yang berkesempatan mengikuti program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka. Lewat program Mengajar di Sekolah, mahasiswi jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya itu berkesempatan untuk mengajar di salah satu SD di Kecamatan Tirto Yudo Kabupaten Malang Jawa Timur.
Bagi mahasiswa yang ingin mengikuti program Mengajar di Sekolah, mereka dibebaskan untuk memilih tiga sekolah sesuai domisili tempat tinggal mahasiswa. Pilihan tiga sekolah tersebut yaitu sekolah yang berada di satu kecamatan domisili, di satu kabupaten domisili, dan di satu provinsi domisili.
Kiki, panggilan akrab Rizki, mengajar di SDN Kepatihan 3 Kabupaten Malang berawal dari pengalaman magang/KKN sebelumnya. Sebelum menjalani program ini, Kiki terlebih dahulu mengikuti persyaratan magang/KKN dari fakultasnya di salah satu sekolah yang bukan termasuk 3T atau terakreditasi C.
“Karena kemarin habis KKN, kebetulan program KKN saya itu juga mengajar. Jadi masih terbawa suasana mengajar dan ingin mencoba explore mengajar yang lebih menantang,” ujar Kiki kepada Ayojakarta, Kamis 8 Juli 2021.
Kiki hanyalah satu dari sekian banyak mahasiswa yang sudah turut berkontribusi dalam memajukan pendidikan Indonesia. Hal serupa juga dirasakan oleh Sinta Mayyukha, mahasiswi Universitas Islam Malang jurusan Manajemen.
Kendati jurusan Sinta tidak berhubungan lansung dengan mengajar, namun hal itu justru memunculkan kepeduliannya terhadap fenomena pendidikan di Indonesia, khususnya di saat pandemi Covid-19.
“Saya merasa kasihan kepada anak-anak sekarang yang masalah pendidikannya terhalang dengan adanya Covid-19. Bahkan ada murid yang baru masuk, terpaksa harus belajar dari rumah, sampai tidak tahu guru dan teman-temannya yang mana,” kata Sinta.
Menurutnya, murid-murid usia SD membutuhkan pengawasan dan perlu dikontrol oleh orang tuanya dalam proses pembelajaran jarak jauh (PJJ). Namun, kata dia, tidak sedikit anak-anak yang luput dari pengawasan orang tuanya dalam proses belajar-mengajar selama PJJ. Hal ini mendorong Sinta untuk turut ambil andil terhadap berbagai permasalahan pendidikan di masa pandemi.
Cerita dua mahasiswi di atas juga dirasakan oleh Lia Maulani, mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas PGRI Kanjuruhan Malang. Lia mengatakan, motivasinya ikut program Mengajar di Sekolah adalah karena program tersebut beriringan dengan jurusannya, yaitu keguruan.
Awalnya, dia merasa ragu untuk mengikuti program tersebut karena terbentur oleh pengerjaan skripsi dan pekerjaan rumah. Namun setelah membuat pertimbangan dan berfikir matang, Lia memutuskan untuk mendaftar.
“Saya senang, saya bisa melihat kemampuan diri saya sendiri terjun di dunia pekerjaan yang sesungguhnya,” ujarnya.
Melihat Kondisi Fisik Sekolah
Di SDN Kepatihan 3, sekolah dimana tempat Kiki mengajar, hanya ada tiga ruangan untuk 6 tingkatan kelas, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Kiki bercerita bahwa satu ruangan dipakai untuk dua kelas. Jumlah murid di sekolah ini secara keseluruhan hanya ada 47 siswa.
Untuk fasilitas, di sekolah itu hanya ada perpustakaan dan ruang UKS, dimana dua fasilitas ini juga digabung dalam satu ruangan. Kiki juga menuturkan, perpustakaan di sekolah tersebut memiliki koleksi buku yang kurang lengkap dan dengan terbitan lama.
Selain itu, dia menjelaskan jika kamar mandi di sekolah ini jarang terpakai bahkan kurang terurus. Hal ini juga disebabkan lantaran rumah para siswa berdekatan dengan sekolah. Namun tak jarang, dia menemukan siswa yang izin untuk buang air besar ke sungai yang ada di dekat sekolah.
Berbeda dengan pengalaman yang dirasakan oleh Kiki. Sinta mengajar di sekolah yang bukan termasuk wilayah 3T namun dengan akreditasi yang masih C. Sekolah tempat Sinta mengajar yaitu SDS Wahidiyah Gondanglegi yang terletak di Jalan Raya Gondanglegi, Krajan Satu, Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Kendati bukan merupakan daerah 3T, namun sekolah ini juga memiliki keterbatasan fasilitas dan kondisi fisik sekolah yang harus menjadi perhatian. SDS Wahidiyah juga memiliki keterbatasan jumlah ruangan untuk murid-murid per tingkatannya.
“Untuk kelasnya sendiri, ada 5 ruangan yang terdiri dari kelas 1, kelas 3, kelas 4, kelas 6, dan untuk kelas 1 dan 5 dijadikan satu ruangan. Keadaan kelas juga cukup layak digunakan, hanya terdapat genteng yang bocor di ruang kelas 4,” jelas Sinta.
Di SDS Wahidiyah, kata Sinta, jumlah anak di setiap tingkatan kelas ada 30 anak. Sedangkan untuk jumlah guru ada 6 guru, satu TU, dan satu kepala sekolah.
Kondisi lainnya dari SDS Wahidayah yaitu sekolah ini masih menggunakan papan tulis kapur, ubinnya pun tidak berlantai. Sekolah ini juga tidak memiliki perpustakaan.
Sekolah lainnya yang masuk ke dalam sekolah 3T adalah SDN Dadapan 3 Kecamatan Wajak Kabupaten Malang Jawa Timur. Sekolah ini adalah tempat dimana Lia mengajar untuk ikut dalam program Mengajar di Sekolah.
Menurut penuturan Lia, SDN Dadapan 3 dinilai layak untuk ditempati. Dengan melihat dari kondisi fisik sekolah seperti ubin yang sudah berlantai dan papan tulis kapur dan whiteboard.
“Jumlah murid yang kurang lebih hanya ada 35 siswa dari seluruh kelas 1 sampai 6, dan ada 5 guru dan 1 kepala sekolah yang seluruhnya adalah perempuan dan sudah berstatus sebagai PNS,” rincinya.
Medan yang Harus Ditempuh
Kiki bercerita bahwa saat pertama kali melakukan survey di SDN Kepatihan 3, dirinya sempat tersasar karena lokasi sekolah tidak ada dalam Google Maps. Jalan yang dilewati Kiki menuju sekolah itu terbilang cukup beragam, mulai dari jalan aspal hingga jalanan yang sudah rusak.
Lokasi yang berada di pegunungan membuat jalanan yang dilalui berkelok-kelok dan mempunyai ukuran kecil. Kiki harus melewati beberapa perkampungan yang sepi dan jalan dengan tikungan yang menurun.
Hal ini berbeda dengan yang dirasakan Sinta. Letak SDS Wahidiyah tidak terlalu jauh dari jalan raya. Hanya saja, untuk ke sekolah itu, dirinya harus memasuki area perkampungan. Jarak dari rumahnya ke sekolah tersebut juga dirasakan oleh Sinta tidak terlalu jauh, yaitu sekitar 6,7 km.
“Untuk medan ditempuh juga tidak sulit karena sekolahnya tidak terlalu pelosok. Jadi, lewat jalan raya pun bisa. Jadi, untuk proses belajar mengajar tidak mengalami kesulitan terlalu besar. Hanya saja untuk media pembelajaran masih belum menggunakan teknologi,” jelas Sinta.
Lia tidak merasakan beratnya jalan yang harus dia tempuh untuk ke SDN Dadapan 3. Namun, dia memiliki medan sulit tersendiri dalam mengajar anak-anak di sekolah itu.
Selama dia mengajar, Lia mengaku mengalami kesulitan dari segi siswa-siswanya. Dia mengatakan hal itu terjadi karena siswa di sekolah tersebut masih banyak yang sangat minim pengetahuan.
Lia menjelaskan maksud dari minimnya pengetahuan siswa di sekolah itu. Dia mengatakan, sebagian murid di kelas 4 begitu kesulitan dalam menulis dan membaca.
“Jadi kami juga bingung, ini apakah memang faktor dari gurunya yang kurang mengajari atau memang dari siswanya yang kurang bisa,” tuturnya.
Rusak Diterpa Gempa Malang
Kabupaten Malang sempat dilanda gempa bumi pada 10 April 2021 lalu dengan kekuatan 6,1 Skala Richer (SR). Gempa tersebut berada di 90 kilometer Barat Daya Kabupaten Malang dengan kedalaman 25 kilometer.
Gempa tersebut tidak hanya merusak puluhan rumah warga, namun juga merusak sekolah yang sempat disinggahi oleh Kiki, SDN Kepatihan 3. Dia sempat mengirimkan beberapa dokumentasi berupa foto kepada Ayojakarta untuk memberitahu seberapa parah kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa itu.
Berdasarkan foto yang diterima, terlihat sebagian atap genteng SDN Kepatihan 3 runtuh hingga berjatuhan dan meninggalkan bekas bolong. Tidak hanya genteng, atap-atap triplek di sepanjang koridor sekolah dan ruang kelas pun runtuh
Kerusakan itu terlihat jelas bagi siapapun yang lewat di depan SDN Kepatihan 3. Kiki tidak mengetahui secara pasti apakah kerusakan tersebut sudah diperbaiki atau belum.
Namun, dalam beberapa foto-foto yang dikirimkan, terlihat sejumlah orang yang naik ke atas genteng sekolah. Mereka terlihat memperbaiki posisi genteng yang belum jatuh dan patah ke posisi yang sebenarnya.

Share this article
Melihat Lebih Dekat Situasi Pendidikan Indonesia: Kisah Inspiratif Mahasiswa Terjun ke Sekolah 3T. Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka