TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Pagebluk COVID-19 membawa dampak pada elektabilitas tokoh-tokoh, terutama kepala daerah yang masa jabatannya habis pada 2022 atau 2023. Jika mereka menangani pandemi virus corona dengan baik maka berpeluang mendapatkan tiket maju di Pilpres 2024.
"COVID-19 adalah representasi capres. Alasan mendasar kecepatan, kesiagaan sampai ketepatan mengambil policy and decision (kebijakan dan keputusan) menjadi kartu AS," kata Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies, Jerry Massie, Senin (15/6/2020).
Ia melihat setidaknya ada tiga gubernur di luar Ibu kota Jakarta yang berkibar. "Ada Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat) maupun Gubernur (Jawa Timur) Khofifah Indar Parawangsa. Anies Baswedan juga berpeluang besar," kata Jerry.
Jerry mengatakan, peluang kepala daerah cukup besar lantaran kerap muncul di media. Beberapa sosok tersebut tengah beradu strategi menekan penyebaran virus corona.
""Peran media sangat besar mendongkrak popularitas dan elaktabilitas. Ini menjadi magnet politik dan ada daya magis politik," ujarnya.
Menurut Jerry, bursa capres 2024 juga terbuka lebar bagi tokoh nasional. Dia menyebut Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Sandiaga Uno yang sempat menjajal 'pedas'nya kompetisi Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 serta Menteri BUMN Erick Thohir.
Mantan bos klub raksasa Italia "Nerazurri" Inter Milan ini dinilainya punya kemampuan memimpin yang apik.
"Lihat saja, bagaimana dia membersihkan BUMN, bahkan merekstrurisasi perusahaan plat merah ini dari 142 menjadi 107 perusahaan," katanya.
Jerry menambahkan, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh juga berpotensi meramaikan bursa Pilpres 2024. Tokoh konservatif lainnya, menurut dia adalah Rizal Ramli. Manta Menko Ekuin di era mendiang Presiden Gus Dur ini berpeluang lantaran selain dekat dengan rakyat kecil serta suka membantu kaum marjinal.
"Beliau tipikal bukan hanya pencitraan tapi tindakan nyata. Rizal calon alternatif dari kalangan profesional, akademisi dan aktivis. Suara lantangnya membela kelompok terzalimi menjadi acuan baginya di Pilpres 2024," tuturnya.
Menurut Jerry, publik mencari tokoh yang memiliki kemapanan, ketegasan dan visioner. Dia menilai masyarakat sudah jenuh dengan kompetisi yang dibanjiri janji politik belaka.
"Publik tak butuh no action talk only (NATO) tapi talk less do more (TLDM). Pasalnya, rakyat kerap jadi kelinci percobaan," tegasnya.
Jerry meyakini daerah perang politik di Jawa tetap seru. Jabar dengan pemilih terbanyak 33,2 juta, diikuti Jatim 30,9 juta dan Jateng 27 juta. Jakarta 7,7 juta pemilih, Banten 7,4 juta dan Jogja 2,7 juta sehingga total keseluruhan 118,8 juta suara.
"Bisa dibilang pemilih di Pulau Jawa hampir 60 persen dari 192 juta pemilih pada Pilpres 2019 lalu," imbuhnya.
Jerry pun membuat perhitungan suara yang diraup para capres. Menurut dia, jika Ganjar berpasangan dengan Ridwan maka ada 60 juta suara yang dimiliki keduanya.
"Jika Khofifah-Ridwan (63 juta), Ganjar- Anies (34 juta), Anies-Ridwan (40 juta), Khofifah-Anies (37 juta), Ridwan-Khofifah (60 juta)," rincinya.
Lawan tangguh lainnya, menurut dia, jika Ketua DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua DPR Puan Maharani ditandemkan.
"Alasannya sederhana, kedua arai ini menguasai parlemen selain Golkar," cetusnya.
PDIP meraup 128 kursi dan Gerindra 78 kursi pada pemilu lalu. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi perkawinan politik antara PDIP dengan Gerindra.
"Jika dilihat gelagat Pra Prabowo dengan merapat ke koalisi PDIP. Ini setidaknya, sinyalemen red and white akan berafiliasi politik," tuturnya.

Share this article
Peluang kepala daerah cukup besar lantaran kerap muncul di media. Beberapa sosok tersebut tengah beradu strategi menekan penyebaran virus corona.