JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Menghadapi potensi bencana yang tak bisa ditebak datangnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta wajib meningkatkan kesiapsiagaan dan terus waspada.
Instruksi itu disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo.
Wilayah Jakarta pernah diguncang gempa besar setidaknya tiga kali dalam jarak waktu sekitar satu abad per kejadian. Tiga gempa itu terjadi pada 5 Januari 1699, 22 Januari 1780 dan 10 Oktober 1834.
Berdasarkan penelitian, lanjut Doni, Jakarta masuk dalam wilayah yang dipengaruhi tiga zona patahan. Ketiga zona tersebut adalah Patahan Baribis, Patahan Kendeng dan Indo-Australia yang terletak di selatan Pulau Jawa.
Karena itu, BNPB meminta agar BPBD DKI Jakarta memprioritaskan upaya mitigasi, khususnya untuk infrastruktur sarana transportasi massal dan obyek vital. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi adanya resiko bencana.
“Buat mitigasi khusus untuk transportasi umum seperti LRT, MRT, KRL," ujar Kepala BNPB, Doni Monardo, dalam keteranganya tertulisnya, Sabtu (28/12/2019).
Bagaimanapun keselamatan masyarakat adalah tanggung jawab Pemerintah Daerah. Ia mengintruksikan BPBD DKI cepat melakukan hal yang disarankannya itu sehingga tercipta upaya mitigasi bencana dengan baik.
"Karena tanpa ada mitigasi yang baik, para pengguna transportasi ini bisa terjebak dalam kondisi yang buruk jika terjadi bencana. Segera lapor ke Gubernur untuk mengambil langkah,” jelasnya.
Selain gempa bumi, potensi ancaman bencana bagi wilayah Jakarta juga datang dari gunung api. Ini berkaca pada peristiwa letusan Gunung Krakatau yang berdampak pada seluruh wilayah Selat Sunda hingga Jakarta pada abad 18.
"Potensi gunung api juga bisa saja datang dari Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun Salak," ucap Doni.

Share this article
Jakarta masuk dalam wilayah yang dipengaruhi tiga zona patahan. Ketiga zona tersebut adalah Patahan Baribis, Patahan Kendeng dan Indo-Australia yang terletak di selatan Pulau Jawa.