AYOJAKARTA.COM - Rencana pertemuan Megawati Soekarnoputri dengan presiden terpilih Prabowo Subianto masih menjadi sorotan publik.
Di tengah tarik ulur rencana pertemuan tersebut, muncul kabar bahwa Megawati akan absen menghadiri pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih RI.
Sebagai informasi, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka akan resmi dilantik menjadi presiden dan wakil presiden RI periode 2024-2029.
Pelantikan tersebut akan digelar di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, hari Minggu, 20 Oktober 2024, mulai pukul 10.00 WIB.
Kabar absennya Megawati saat acara pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih RI mencuat dan menjadi perbincangan publik.
Publik menduga bukan hanya alasan kesehatan, akan tetapi ada sikap politik yang ditunjukkan oleh Megawati Soekarnoputri terhadap pemerintahan Prabowo dan Gibran.
Pengamat Politik, Yunarto Wijaya, menjelaskan bahwa Megawati belum memberikan keputusan bahwa PDI Perjuangan akan setuju berkoalisi dengan Prabowo-Gibran.
"Kalau alasan resminya karena sakit disampaikan oleh ketua MPR ya. Walaupun kemarin di Sidang Doktoral maa Hasto masih hadir," ujar Yunarto atau Toto, dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube KOMPASTV, hari Minggu, 20 Oktober 2024.
Baca Juga: Puan Maharani Ungkap Isi Pembicaraan Rahasia Prabowo dan Megawati Jelang Pelantikan Presiden
Toto mengatakan bahwa hubungan Megawati dengan Prabowo dan Gibran Raka pasca dilantik sebagai presiden dan wakil presiden 2024-2029 masih menemui hambatan kecil.
"Tetap ada hambatan kecil psikologis buka dengan Pak Prabowo, saya melihat tidak ada masalah sama sekali" katanya.
"Antara Ibu Mega dan Pak Prabowo dalam konteks hubungan sangat baik atau dalam konteks Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2024," jelasnya.
Toto juga menyebutkan bahwa permasalahan yang muncul dan menjadi banyak perhatian masyarakat, lebih kepada kontroversi majunya Gibran mengikuti kontestasi Pilpres 2024 yang santer disebut ada campur tangan Presiden Joko Widodo hingga memanasnya hubungan keduanya dengan PDIP.
"Permasalahan itu muncul lebih kepada mas Gibran yang akan dilantik besuk dan juga kepada Pak Jokowi," ujarnya.
"Tapi konteksnya adalah dianggap berkhianat dengan PDIP atau dalam konteks penghianatan terhadap konstitusi yang sering kita dengar," paparnya.
Ketidakhadiran Megawati ini apakah menjadi pertanda tertutupnya peluang koalisi PDI Perjuangan di Pemerintahan Prabowo-Gibran, Toto pun menjelaskan bahwa semua kemungkinan bisa terjadi.
"Ini dikaitkan dengan sikap politik ibu Megawati tapi apakah artinya ketidakhadiran Ibu Mega besuk bisa dipastikan tidak akan bergabung belum tentu juga," jelas Toto.
Tetapi dengan masuknya Mantan Kepala BIN, Budi Gunawan sebagai kandidat anggota Kabinet Pemerintahan Prabowo-Gibran, peluang koalisi PDIP juga menjadi semakin besar pasca pelantikan.
"Tapi dengan masuknya Pak BG (Budi Gunawan) yang kita tahu walaupun tidak KTA tapi masih bisa direpresentasikan sebagai bagian dari keluarga besar PDI P secara informal menurut saya ini indikasi komunikasi tetap berjalan," jelasnya.
Menurutnya, Budi Gunawan bisa menjadi jembatan antara Megawati dengan Prabowo Subianto karena dirinya sudah diterima di Pemerintahan Prabowo-Gibran.
Selain itu, peran Budi Gunawan juga dapat meningkatkan intensitas komunikasi Megawati dengan Prabowo ke depannya.***
Share this article
Kabar absennya Megawati saat acara pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih RI mencuat dan menjadi perbincangan publik.