AYOJAKARTA.COM - Inovasi energi alternatif kembali ramai dibicarakan setelah munculnya Bobibos (Bahan Bakar Orisinil Buatan Indonesia).
Produk ini digagas oleh Muhammad Ikhlas Tamrin, yang mengklaim bahwa bahan bakar dari jerami limbah panen padi ini bisa menjadi pengganti BBM fosil yang selama ini masih diimpor dan harganya cenderung naik.
Jerami yang biasanya hanya menjadi limbah sawah diklaim mampu menghasilkan hingga 3.000 liter bahan bakar per hektar. Melalui teknologi biokimia khusus, jerami diolah menjadi dua jenis bahan bakar, yaitu setara bensin dan diesel.
Pengembang Bobibos menyebut nilai oktannya bahkan dapat mencapai RON 98, setara Pertamax Turbo. Kemunculan Bobibos disambut antusias oleh masyarakat karena dianggap bisa menjadi energi murah, ramah lingkungan, dan menguntungkan petani.
Jerami yang sebelumnya tidak bernilai kini bisa dijual sebagai bahan baku, sehingga membuka peluang ekonomi baru di sektor pertanian. Selain itu, Bobibos diklaim dapat digunakan untuk kendaraan motor, mobil, traktor, kapal nelayan, hingga mesin industri.
Namun, inovasi ini tak lepas dari perdebatan. Pemerintah melalui Kementerian ESDM menegaskan bahwa produk BBM baru harus melewati rangkaian uji mutu dan perizinan yang ketat, yang biasanya memakan waktu minimal delapan bulan.
Meski pengembang menyebut sudah mengajukan uji laboratorium ke Lemigas, hasilnya masih tertutup dan belum bisa menjadi dasar izin edar.
Pihak DPR juga meminta pemerintah menindaklanjuti temuan ini secara objektif agar inovasi anak bangsa mendapat pendampingan yang tepat.
Di sisi lain, sebagian publik skeptic, benarkah jerami bisa menghasilkan bahan bakar berkualitas tinggi dalam skala besar? Apakah Bobibos mampu menjaga konsistensi kualitas, keamanan, dan efisiensi mesin?
Bobibos juga menuai pro kontra terkait transparansi proses produksi. Pengembang mengaku seluruh riset dilakukan di Indonesia dan dirahasiakan untuk mencegah penciplakan negara lain.
Namun, ini juga membuat sebagian pihak mempertanyakan kejelasan teknologi yang digunakan. Meski begitu, sejumlah figur publik dan daerah seperti Gubernur Jawa Barat menunjukkan dukungan melalui uji coba langsung yang hasilnya dinilai memuaskan.
Pada akhirnya, Bobibos menghadirkan harapan sekaligus tanda tanya besar. Bila lolos uji resmi pemerintah dan bisa diproduksi massal, bahan bakar berbasis jerami ini berpotensi menjadi terobosan besar bagi kemandirian energi Indonesia. Namun sebelum itu terjadi, masyarakat harus menunggu proses verifikasi ilmiah dan regulasi yang berlaku.***
Share this article
Inovasi BBM jerami “Bobibos” buatan anak bangsa menuai pro-kontra. Diklaim ramah lingkungan, murah, dan oktan tinggi, namun masih menunggu uji serta izin resmi pemerintah sebelum bisa diedarkan.