AYOJAKARTA.COM - Indonesia kini sedang mempercepat langkah menuju kedaulatan energi nasional.
Salah satu strategi utamanya adalah melalui pengembangan bahan bakar bioetanol.
Pemerintah telah menetapkan target besar untuk memulai mandatori bioetanol pada tahun 2027.
Sebagai langkah awal, program bensin dengan campuran etanol 5 persen (E5) akan mulai berlaku terbatas pada Juli 2026.
Kebijakan strategis ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa program ini penting untuk mencapai swasembada energi.
Tujuannya sangat jelas, yaitu mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan bakar fosil.
Provinsi Lampung terpilih menjadi lokasi pusat pengembangan energi terbarukan ini.
Wilayah ini sedang dipersiapkan menjadi sentra bioetanol terintegrasi yang menjadi model nasional.
Proyek besar di Lampung ini melibatkan kolaborasi antara pemerintah, badan usaha milik negara, dan pihak swasta.
PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) menjalin kerja sama erat dengan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).
Sinergi ini bertujuan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur produksi energi nabati.
Kolaborasi ini mencakup koordinasi lapangan yang melibatkan Pemerintah Provinsi Lampung serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi.
Hal yang menarik dari proyek di Lampung ini adalah penggunaan bahan baku yang sangat beragam.
Produksi bioetanol tidak hanya mengandalkan hasil pertanian utama seperti tebu, singkong, atau jagung. Para ahli mulai melirik potensi besar dari molases tebu dan sorgum.
Lebih jauh lagi, proyek ini fokus pada pengembangan bioetanol generasi kedua atau second generation bioethanol.
Teknologi ini memungkinkan pengolahan limbah biomassa menjadi bahan bakar berkualitas tinggi.
Penggunaan limbah biomassa memastikan bahwa produksi energi tidak akan mengganggu ketersediaan bahan pangan masyarakat.
Keberhasilan program ini diharapkan mampu menyalin kesuksesan biodiesel B50.
Program B50 sebelumnya diproyeksikan bisa menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun.
Melalui bioetanol, pemerintah berharap nilai rupiah bisa menjadi lebih stabil terhadap tekanan ekonomi global.
Pemerintah terus mendorong efisiensi di sektor hulu agar bioetanol tetap kompetitif.
Kapasitas produksi nasional ditargetkan terus meningkat secara bertahap setiap tahunnya.
Pada tahun 2030, target produksi bioetanol nasional diharapkan mampu mencapai angka 1,28 juta kiloliter.
Dengan dukungan teknologi dari Toyota dan infrastruktur Pertamina, Lampung digadang-gadang bakal memimpin transisi energi hijau di Indonesia.***
Share this article
Arahan Presiden Prabowo, mandatori bioetanol rilis 2027 pasca uji E5 Juli 2026. Proyek terintegrasi di Lampung gandeng Toyota-Pertamina guna olah limbah biomassa jadi bioetanol generasi kedua.