AYOJAKARTA.COM - Gagasan mengubah jerami menjadi bahan bakar minyak (BBM) terdengar indah. Limbah pertanian yang selama ini dibakar bisa berubah menjadi energi murah dan ramah lingkungan.
Namun, sejarah global menunjukkan jalan ini tidak mudah. Salah satu contoh paling nyata adalah kegagalan Sunliquid, teknologi bioetanol jerami milik perusahaan kimia raksasa asal Swiss-Jerman, Clariant.
Dilansir dari YouTube Nesia Insight, Sunliquid dikembangkan sejak 2006 sebagai bioetanol generasi kedua berbasis jerami. Teknologinya canggih yaitu selulosa jerami dipecah dengan enzim khusus menjadi gula, lalu difermentasi menjadi etanol.
Pada tahap laboratorium dan pabrik percontohan di Jerman, hasilnya sangat menjanjikan. Media memuji, regulator Eropa memberi lampu hijau, dan investor percaya penuh.
Kepercayaan itu mendorong Clariant membangun pabrik komersial raksasa di Podari, Rumania. Targetnya ambisius dengan produksi 50 ribu ton bioetanol per tahun. Investasinya tidak main-main, mencapai ratusan juta franc Swiss atau setara triliunan rupiah.
Pabrik rampung pada Oktober 2021, kontrak penjualan bahkan sudah disiapkan bersama Shell. Masalah muncul ketika produksi skala besar dimulai pada 2022. Yield bioetanol per ton jerami jauh di bawah perhitungan.
Kualitas jerami dari ratusan pemasok tidak konsisten. Konsumsi energi melonjak. Proses produksi tidak stabil. Di level laboratorium, enzim bekerja optimal.
Di pabrik besar, semuanya jauh lebih kompleks. Sedikit saja penurunan efisiensi langsung membuat biaya produksi melonjak drastis.
Akibatnya fatal. Sepanjang 2022, Clariant mencatat kerugian sekitar 225 juta franc Swiss hanya dari pabrik ini. Upaya perbaikan sepanjang 2023 tidak membuahkan hasil. Pada Desember 2023, Clariant resmi menutup permanen pabrik Sunliquid.
Total kerugian, termasuk biaya penutupan dan restrukturisasi, menembus ratusan juta dolar AS. Teknologi yang dikembangkan hampir 20 tahun berakhir gagal di tahap komersial.
Kisah ini relevan dengan polemik Bobibos di Indonesia. Bobibos juga mengklaim mengolah jerami menjadi BBM dengan harga sangat murah, bahkan disebut-sebut di kisaran Rp4.000–Rp4.300 per liter dengan RON tinggi.
Klaim ini terdengar jauh lebih radikal dibanding Sunliquid, padahal Clariant didukung modal besar, teknologi matang, dan pasar Eropa yang mapan.
Pelajaran penting dari Sunliquid jelas. Pertama, sukses di laboratorium tidak menjamin sukses di produksi massal. Kedua, biofuel berbasis jerami sangat sensitif terhadap skala, kualitas bahan baku, dan logistik.
Ketiga, tantangan terbesar bukan sekadar teknis, tetapi keekonomian. Sedikit saja efisiensi turun, biaya langsung tak kompetitif dibanding BBM fosil.
Bobibos mungkin berhasil di tahap uji coba atau demonstrasi terbatas. Namun sejarah global menunjukkan bahwa produksi massal BBM dari jerami adalah ujian berat.
Apakah Bobibos benar-benar menemukan terobosan baru, atau justru mengulang jalan terjal yang sudah membuat raksasa dunia tumbang? Waktu dan pembuktian nyata yang akan menjawabnya.***

Share this article
Kisah Sunliquid Clariant menunjukkan BBM jerami gagal di produksi massal meski didukung triliunan rupiah. Klaim Bobibos dinilai berisiko mengulang kegagalan serupa.