AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar berbasis jerami yang dikembangkan Bobibos kembali menjadi sorotan publik.
Proyek energi alternatif karya anak bangsa ini disebut telah siap diproduksi secara massal, namun belum dapat direalisasikan di Indonesia karena terkendala regulasi.
Pembina Bobibos, Mulyadi, menjelaskan bahwa dari sisi teknis, seluruh proses produksi sebenarnya sudah siap.
Mulai dari ketersediaan bahan baku jerami, kesiapan mesin, hingga alur produksi telah melalui tahapan riset dan uji yang panjang. Kendala utama justru berada pada aspek aturan.
Untuk produksi di Indonesia masih terkendala regulasi, karena biohidrokarbon dari jerami belum memiliki payung hukum.
Di tengah kendala tersebut, Bobibos justru melangkah lebih cepat di luar negeri.
Mulyadi mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama dengan pemerintah Timor Leste untuk pengembangan dan produksi tahap awal.
"Bismilah rakyat Timor Leste akan menikmati bahan bakar murah asli buatan Indonesia," demikian pernyataan dari pihak pengelola Bobibos dalam postingan di media sosial Instagram yang diunggah pada Senin, 29 Desember 2025.
Dalam kerja sama ini, pemerintah Timor Leste menyiapkan fasilitas berupa gudang, pabrik, serta lahan bahan baku dengan total luas sekitar 25.000 hektare, dengan tahap awal sekitar 5.700 hektare.
Kapasitas produksi masih dalam tahap pembahasan karena bergantung pada kesiapan mesin, volume bahan baku, serta fasilitas pendukung lainnya.
Namun, Bobibos menargetkan produksi awal dapat dimulai pada Januari hingga Februari 2026, dengan peluncuran perdana yang difasilitasi langsung oleh pemerintah Timor Leste.
Sementara itu, komunikasi dengan pemerintah Indonesia tetap dilakukan melalui jalur kelembagaan dan legislasi.
Mulyadi mengklaim telah menyampaikan perkembangan proyek Bobibos kepada DPR serta kementerian terkait, sembari menunggu adanya regulasi yang mengatur biohidrokarbon berbasis jerami.
Komisaris Inti Sinergi Formula, Kusdary, menambahkan bahwa bahan bakar berbasis jerami memiliki karakter berbeda dibanding kebijakan energi nasional saat ini yang fokus pada biodiesel dan etanol.
Biodiesel berbahan sawit berpotensi bersinggungan dengan kebutuhan pangan, sementara etanol umumnya berasal dari tebu, singkong, atau aren.
Jerami itu limbah pertanian. Tidak mengganggu sektor pangan dan Indonesia punya jutaan hektare sawah aktif tanpa perlu membuka lahan baru.
Selama ini, petani hanya mendapatkan nilai ekonomi dari beras, sementara jerami belum dimanfaatkan secara optimal.
Baru-baru ini, Bobibos juga membagikan bocoran kondisi pabrik di Timor Leste melalui unggahan Instagram pada Selasa, 29 Desember 2025.
Terlihat sejumlah alat besar yang akan digunakan untuk mengolah jerami menjadi bubuk, kemudian dicampur formulasi kimia atau serum, hingga menghasilkan cairan organik yang diolah kembali menjadi bensin dan solar.
Unggahan tersebut memicu beragam respons warganet, termasuk pertanyaan soal realisasi pabrik Bobibos di Indonesia, khususnya di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang.
Meski demikian, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan kerja sama dengan Bobibos tidak batal dan masih terkendala penyiapan bangunan, lahan, serta fasilitas penunjang.
"Kendalanya adalah kendala teknis penyiapan bangunan dan areal tanah. Kemudian juga menyimpan tangkinya dan membuat bangunan penunjang," jelas KDM.
Dengan dinamika ini, Bobibos kini berada di persimpangan antara kesiapan teknologi dan kesiapan regulasi.
Produksi di Timor Leste menjadi langkah awal, sembari menunggu pintu regulasi Indonesia terbuka bagi energi alternatif berbasis jerami.***

Share this article
Bobibos siap produksi BBM jerami, namun terhambat regulasi di Indonesia. Timor Leste jadi lokasi produksi awal dengan dukungan lahan dan pabrik, sambil menunggu payung hukum nasional.