AYOJAKARTA.COM - Isu transisi energi kembali menguat di awal 2026. Di tengah persiapan peluncuran bahan bakar nabati Bobibos di Timor Leste, muncul sinyal kuat bahwa Indonesia juga akan memasuki fase baru pengembangan energi terbarukan berbasis limbah dan sampah.
Dua arus besar ini membuat peta persaingan energi alternatif nasional kian menarik untuk dicermati.
Tim Bobibos baru-baru ini melakukan pertemuan strategis dengan Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria di Kantor BRIN, Jakarta Selatan.
Pertemuan tersebut membahas transisi energi baru terbarukan, inovasi berbasis sumber daya lokal, serta peran lembaga riset dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Dalam dialog tersebut, BRIN menyatakan dukungan penuh terhadap inovasi anak bangsa, bahkan membuka akses laboratorium riset untuk mendukung pengembangan teknologi Bobibos.
Meski belum ada keputusan resmi terkait produksi Bobibos di Indonesia, pertemuan ini dinilai sebagai sinyal awal kemungkinan pengembangan bahan bakar jerami di dalam negeri.
Jika terealisasi, hal ini berpotensi membuka peluang industri energi alternatif berbasis inovasi lokal, sekaligus memperluas ekosistem riset, investasi, dan hilirisasi energi terbarukan nasional.
Di sisi lain, pemerintah juga bersiap meluncurkan proyek energi terbarukan skala besar berbasis sampah melalui program waste-to-energy atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa proyek ini akan dibangun di 34 titik di 34 kabupaten/kota, khususnya di daerah dengan timbunan sampah harian di atas 1.000 ton.
Tujuannya bukan hanya menghasilkan energi listrik, tetapi juga mengurangi beban lingkungan, risiko kesehatan, serta persoalan penumpukan sampah perkotaan.
Proyek PSEL ini menjadi bagian dari 18 proyek hilirisasi strategis nasional yang mulai dikerjakan pada periode Januari–Maret 2026, dengan total nilai investasi diperkirakan mencapai Rp600 triliun.
Realisasi investasinya akan dipimpin langsung oleh Danantara Indonesia. Teknologi waste-to-energy diharapkan mampu memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi konvensional seperti batu bara.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi LPG.
Ini menunjukkan bahwa arah kebijakan energi nasional kini bergerak simultan: biofuel dari limbah pertanian, energi dari sampah kota, hingga hilirisasi batu bara.
Dengan kondisi ini, Bobibos berpotensi tidak lagi menjadi satu-satunya simbol energi alternatif.
Persaingan dan kolaborasi akan terbuka lebar. Ke depan, publik akan menyaksikan apakah inovasi lokal seperti Bobibos mampu berdiri sejajar dengan proyek-proyek energi strategis pemerintah dalam membentuk ekosistem energi terbarukan Indonesia yang berkelanjutan, mandiri, dan berdaya saing global.***

Share this article
Bobibos siap diluncurkan di Timor Leste, sementara pemerintah Indonesia mulai proyek energi terbarukan dari sampah untuk mendukung ketahanan energi nasional.