AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar nabati (BBN) asli anak bangsa, Bobibos, sempat menjadi perbincangan hangat sebelum akhirnya "mati suri" dan menghilang dari radar publik Indonesia selama beberapa waktu terakhir.
Kini, angin segar berembus bagi proyek energi terbarukan ini setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mulai memberikan perhatian serius.
Mengapa Bobibos Sempat Mati Suri?
Lama tak terdengar rimbanya di tanah air, Bobibos, singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos, ternyata menghadapi tembok besar bernama regulasi.
Meskipun diklaim memiliki kualitas setara RON 98 dan berbahan baku limbah jerami yang melimpah, produk ini belum memiliki payung hukum yang kuat dalam kebijakan transisi energi nasional.
Ketiadaan pengakuan resmi terhadap jerami sebagai sumber bioenergi membuat Bobibos tidak dapat diproduksi secara massal maupun didistribusikan secara komersial di Indonesia.
Kondisi "mati suri" ini sempat memicu kekhawatiran bahwa inovasi jenius karya M. Ikhlas Thamrin dan tim peneliti muda ini akan layu sebelum berkembang di negeri sendiri.
Respons Positif Bahlil Lahadalia
Kini, kebuntuan tersebut mulai mencair. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah mengumpulkan data dan melakukan kajian mendalam terhadap Bobibos.
"Kita pelajari dulu, ya. Kita pelajari dulu," ujar Bahlil singkat usai rapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, 11 November, 2025.
Meski demikian, Direktur Jenderal Migas, Laode Sulaeman, mengingatkan bahwa proses penilaian kelayakan BBM baru memerlukan waktu dan tahapan panjang, yang bisa memakan waktu hingga delapan bulan untuk memastikan keamanan dan standar teknis.
Menariknya, di saat nasibnya di Indonesia masih tertahan regulasi, Bobibos justru "hidup kembali" dan menjadi primadona di Timor Leste.
Menjelang Februari 2026, Bobibos bersiap melakukan launching resmi di negara tetangga tersebut dengan dukungan penuh dari Perdana Menteri Xanana Gusmao.
Dukungan Timor Leste sangat masif, mulai dari penyusunan regulasi khusus hingga penyediaan lahan pabrik seluas tiga hektar.
Langkah ekspansi ini disebut oleh Mulyadi (Gerindra) sebagai langkah realistis agar riset ini tidak berhenti total akibat ketidakpastian hukum di Indonesia.
Bobibos bukan sekadar BBM; ini adalah solusi ekonomi pedesaan. Dengan mengolah limbah jerami yang biasanya dibakar, inovasi ini mampu:
- Menghasilkan 3.000 liter BBM dari setiap hektare sawah.
- Memproduksi pakan ternak dan pupuk organik sebagai produk sampingan.
- Menurunkan emisi hingga mendekati nol (Zero Emission).
Kini, publik menanti apakah perhatian dari Bahlil Lahadalia akan berujung pada kemudahan regulasi, sehingga Bobibos tidak perlu lagi "mengungsi" ke luar negeri untuk membuktikan kehebatannya.***
Share this article
Sempat mati suri akibat kendala regulasi, BBM jerami Bobibos kini dikaji Menteri Bahlil. Meski berjaya di Timor Leste, inovasi RON 98 ini dinanti publik untuk resmi mengaspal di Indonesia.