AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar alternatif berbasis jerami, Bobibos, kini memasuki babak baru.
Setelah sebelumnya lebih dulu bergerak di luar negeri, khususnya di Timor Leste, kini sinyal dukungan dari pemerintah Indonesia mulai terlihat.
Hal ini menyusul audiensi antara tim Bobibos dengan Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM pada 13 April 2026.
Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Dirjen Migas Laode Sulaeman dan dihadiri pembina Bobibos Mulyadi serta founder Bobibos Ikhlas Thamrin.
Dalam forum tersebut, Bobibos memaparkan potensi besar inovasi bahan bakar berbasis 100 persen nabati sebagai solusi energi nasional.
“Indonesia bisa swasembada energi, petani pun akan tersenyum dua kali,” ujar Mulyadi dalam pemaparannya.
Salah satu hasil penting dari audiensi ini adalah pembentukan tim teknis antara Ditjen Migas dan Bobibos untuk melakukan uji coba jalan (road test).
Langkah ini dinilai sebagai tahap krusial sebelum produk dapat dipasarkan secara luas.
Bobibos sendiri menawarkan sejumlah keunggulan. Dari sisi ekonomi, bahan bakar ini diklaim mampu menghemat biaya hingga 20–30 persen dibandingkan BBM konvensional.
Dari sisi lingkungan, emisi yang dihasilkan jauh lebih rendah karena tidak mengandung campuran fosil.
Bahkan, inovasi ini disebut dapat digunakan pada kendaraan yang sudah ada tanpa perlu konversi teknologi besar-besaran.
Hasil uji awal juga cukup menjanjikan. Sepeda motor berbahan bakar Bobibos mampu menempuh jarak hingga 45 km per liter, sementara mobil diesel dan bensin mencatat rata-rata 18 km per liter. Selain itu, uji emisi menunjukkan kadar gas buang yang sangat rendah.
Tak hanya itu, Kepala Lemigas, Halim Sariwardana, menyatakan kesiapan pihaknya untuk mendukung proses pengujian lanjutan.
Sementara itu, Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi juga turut mengikuti rapat secara daring.
Dalam pertemuan tersebut, Dirjen Migas bahkan disebut mengapresiasi inovasi Bobibos dan mendorong percepatan regulasi agar produk ini dapat segera masuk ke pasar.
Ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah mulai serius melirik potensi energi alternatif berbasis lokal.
Namun demikian, tantangan utama tetap berada pada aspek regulasi. Hingga saat ini, bahan bakar berbasis jerami belum masuk dalam peta jalan resmi bioenergi nasional.
Kondisi inilah yang sebelumnya membuat Bobibos memilih produksi di luar negeri.
Di tengah krisis energi global dan fluktuasi harga minyak dunia, kehadiran Bobibos bisa menjadi game changer.
Jika proses uji teknis berjalan lancar dan didukung regulasi yang memadai, bukan tidak mungkin Indonesia segera memiliki bahan bakar alternatif berbasis sumber daya lokal.
Publik kini menanti langkah lanjutan pemerintah. Apakah ini menjadi awal kebangkitan energi “Merah Putih”? Waktu yang akan menjawab.***
Share this article
Bobibos, inovasi BBM 100% jerami, jalani audiensi dengan Ditjen Migas ESDM. Langkah ini memulai uji teknis (road test) menuju swasembada energi lokal yang lebih hemat 20-30% dan rendah emisi.