AYOJAKARTA.COM - Ancaman “El Nino Godzilla” kembali menjadi sorotan. Fenomena El Nino dengan intensitas ekstrem ini diprediksi tidak hanya kuat, tetapi juga berlangsung lebih lama dari biasanya.
Dampaknya, Indonesia berpotensi menghadapi kemarau panjang, penurunan curah hujan, hingga krisis air bersih di sejumlah wilayah.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak lanjutan, termasuk potensi gangguan kesehatan.
Ia menyoroti pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah preventif.
Menurutnya, tumpukan sampah yang tidak terkelola bisa menjadi sarang nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD).
Risiko ini meningkat saat musim kering karena genangan air kecil menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun berencana mengintensifkan kerja bakti, normalisasi saluran air, hingga penopingan pohon sebagai langkah antisipasi.
Secara nasional, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah meminta seluruh pemerintah daerah untuk bersiap menghadapi kemarau ekstrem.
Instruksi tersebut mencakup optimalisasi irigasi, rehabilitasi sumber air, hingga penerapan sistem peringatan dini.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini diperkirakan terjadi pada April hingga Agustus 2026, dengan peluang mencapai 62 persen pada puncaknya di pertengahan tahun.
Kondisi ini dipicu oleh pergeseran pusat pembentukan awan hujan ke Samudra Pasifik, sehingga wilayah Indonesia mengalami penurunan intensitas hujan.
Istilah “Godzilla” sendiri bukan terminologi resmi sains, melainkan populer sejak diperkenalkan ilmuwan NASA, Bill Patzert, untuk menggambarkan El Nino berkekuatan luar biasa.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan penggunaan istilah ini bertujuan sebagai peringatan dini agar masyarakat lebih siap menghadapi dampaknya.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian serius adalah Sulawesi Tengah.
Sejak awal 2026, daerah seperti Donggala, Parigi Moutong, dan Sigi telah menunjukkan tanda-tanda kekeringan.
Sekitar 52 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau lebih kering dari normal, sementara 44,8 persen lainnya berpotensi mengalami durasi kemarau yang lebih panjang.
Dampaknya tidak ringan, karena sumur mengering, debit mata air menurun, hingga lahan pertanian retak.
Petani pun diminta menyesuaikan pola tanam dan memilih komoditas yang lebih tahan kekeringan.
Menghadapi situasi ini, pemerintah daerah diminta memastikan ketersediaan air bersih serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Di sisi lain, masyarakat juga harus mulai beradaptasi, memperbaiki saluran air bocor, menampung air hujan, dan menghemat penggunaan air sejak dini.
“El Nino Godzilla” bukan sekadar ancaman cuaca, melainkan ujian kesiapsiagaan nasional.
Tanpa langkah cepat dan kolaboratif, dampaknya bisa meluas ke sektor kesehatan, ekonomi, hingga ketahanan pangan.***
Share this article
Waspada El Nino Godzilla April-Agustus 2026. Intensitas ekstrem picu kemarau panjang & DBD. Rano Karno & Mentan instruksikan jaga kebersihan, hemat air, serta optimalkan irigasi demi ketahanan pangan.