AYOJAKARTA.COM – Sejak menjadi cawapres nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka selalu menjadi sorotan publik.
Saat debat cawapres hingga usai debat namanya selalu menjadi perbincangan oleh masyarakat dan sejumlah tokoh.
Pengamat politik Ahmad Fauzi atau lebih dikenal dengan nama Ray Rangkuti juga turut menyoroti sikap Gibran Rakabuming pasca debat.
Menurutnya, saat ini Gibran Rakabuming tengah membangun kamuflase dengan beberapa tindakannya untuk diperlihatkan ke publik.
Pendiri Lingkar Madani (Lima) ini mengomentari bagaimana cara cawapres nomor urut 2 ketika bersalaman setelah debat selesai.
Diketahui bahwa ketika bersalaman dengan Mahfud MD usai debat cawapres, Gibran Rakabuming Raka tampak menundukkan kepalanya.
Ray Rangkuti mengatakan bahwa di masyarakat ketika bersalaman sambil menunduk hingga cium tangan memperlihatkan etik yang cukup tinggi.
“Jadi kalaupun dia menampilkan sesuatu yang kelihatan penuh dengan etika, seperti salaman nunduk di ita itu kan menunjukkan sebuah etika yang cukup tinggi,” ujarnya, dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube KAISAR TV pada Selasa, 30 Januari 2024.
Namun, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Gibran Rakabuming usai debat cawapres pada Minggu, 21 Januari 2024.
Menurutnya, apa yang dilakukan oleh anak sulung dari Presiden Joko Widodo itu hanya dilakukan untuk membuktikan memiliki sopan santun dan etika di hadapan publik.
Baca Juga: Gibran Beri Tanggapan soal Viral Salam 4 Jari: Warga Tambah Bingung Nanti
“Tapi itu sebetulnya dimaksudkan bukan dalam kerangka benar-benar menghormati orang, bukan dalam kerangka betul-betul dia respect kepada orang,” ujar Ray Rangkuti.
"Tapi lebih itu dipertunjukkan kepada publik untuk tujuan mengakumulasi simbol kepada dirinya gitu loh, bahwa dia punya sopan santun, etika di hadapan publik," sambungnya.
Pengamat politik ini menilai jika cara Gibran Rakabuming salaman sambil menundukkan kepala sebagai simbol bahwa cawapres nomor urut 2 memiliki sopan santun.
Akan tetapi dalam konteks berbangsa dan bernegara, Ray Rangkuti menilai bahwa putra sulung Presiden Jokowi seolah tidak mempedulikan etika.
“Padahal ketika dijojorkan kebutuhan etik yang paling substansial dalam konteks berbangsa dan bernegara dia nggak peduli,” jelas Ray Rangkuti.
“Dijelaskan bahwa putusan MK itu cacat moral berat, mestinya kalau kita punya etik kita yang pertama kali mengatakan saya nggak akan,” sambungnya.
Baca Juga: Muncul Gerakan Salam 4 Jari di Media Sosial, Gibran: 4 Jari Nanti Warga Tambah Bingung
Lebih lanjut pendiri Lingkar Madani (Lima) mengatakan bahwa sebenarnya Gibran Rakabuming tidak memiliki elektabilitas.
Bahkan menurutnya popularitasnya juga tidak tinggi, karena yang dibawa saat ini sebenarnya elektabilitas dan popularitas dari Presiden Joko Widodo selaku ayah dari Gibran.
“Makanya mestinya kalau Anda punya etika besar, harga diri besar sebagai anak muda (maka seharusnya) Anda mengatakan nggak bisa,” tutur Ray Rangkuti.
“Tapi faktanya nggak kan, dia jalan terus. Ini semua kamuflase dengan salaman menunduk itu,” imbuhnya.***

Share this article
Pengamat politik Ahmad Fauzi atau lebih dikenal dengan nama Ray Rangkuti juga turut menyoroti sikap Gibran Rakabuming pasca debat.