AYOJAKARTA.COM - Investasi dalam hilirisasi sektor mineral, terutama nikel, terus menjadi daya tarik utama bagi investor di Indonesia.
Langkah ini sejalan dengan meningkatnya permintaan dalam ekosistem kendaraan listrik.
Pada kuartal keempat tahun lalu, total investasi dalam hilirisasi mineral masih didominasi oleh smelter, mencapai nilai Rp 65,1 triliun.
Jenis komoditas yang menjadi pemimpinnya adalah nikel, dengan nilai investasi mencapai Rp 39,6 triliun.
Bila dilihat sepanjang tahun 2023, sektor smelter tetap memimpin realisasi investasi hilirisasi dengan nilai mencapai Rp 216,8 triliun.
Sementara itu, sektor nikel menyumbang investasi senilai Rp 136,6 triliun. Menteri Investasi Bahlil menyatakan bahwa hilirisasi masih akan menjadi fokus utama dalam menarik investasi sepanjang tahun 2024.
Meskipun harga nikel mengalami penurunan sejak pertengahan tahun lalu, dengan penutupan perdagangan terakhir mencapai $16,70 per ton dari $16,300 sebulan sebelumnya, namun Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menilai penurunan ini sebagai bagian dari siklus alamiah dalam harga komoditas.
"Siklus daripada komoditi itu kan bernaik turun. Apakah itu batu bara, nikel atau timah atau emas apa saja tapi Kalau kita melihat selama 10 tahun terakhir, harga nikel dunia itu ya di $15,000an. Bahkan pada periode 2014-2019, periode hilirisasi mulai kita lakukan, harga rata-rata nikel hanya sekitar $12,000” ucap Luhut Binsar Pandjaitan, dikutip Ayojakarta.com dari Youtube KompasTV, pada Kamis, 25 Januari 2024.
Pandjaitan menekankan pentingnya menjaga keseimbangan harga nikel agar tetap kompetitif di pasaran.
Baca Juga: Geram Tom Lembong Bohong Soal Nikel, Luhut Binsar Pandjaitan: Saya Meragukan Intelektual Anda
Ia juga mengaitkan penurunan harga nikel dengan keberlanjutan teknologi, seperti peningkatan produksi baterai kendaraan listrik berbasis Litium Ferro Phosphate (LFP) di Tiongkok.
"Harga nikel yang terlalu tinggi sangat berbahaya. Kita belajar dari kasus kobalt tiga tahun lalu, harga tinggi membuat orang mencari bentuk baterai lainnya, itu salah satu lahirnya Lithium Ferro Phosphate (LFP) itu. Jadi ini kalau kita juga membikin harga itu ketinggian, orang akan cari alternatif lain”ucapnya.
Teknologi berkembang sangat cepat. Oleh karena itu kita mencari keseimbangan benar keseimbangan.
Supaya betul-betul barang kita ini tetap masih dibutuhkan sampai beberapa tahun yang akan datang kita enggak tahu berapa tahun” tutupnya.
Pernyataannya ini merupakan respons terhadap perbincangan seputar isu nikel yang mencuat dalam debat cawapres minggu lalu, di mana Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa penurunan harga nikel adalah bagian dari dinamika siklus komoditas mineral dan bukan suatu masalah yang harus dicemaskan secara berlebihan.***

Share this article
Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan jika harga nikel yang terlalu tinggi sangat berbahaya, ini alasannya.