AYOJAKARTA.COM -- Masuknya Gibran sebagai cawapres Koalisi Indonesia Maju, membuat elektabilitas Prabowo Subianto meningkat pesat.
Meroketnya elektoral pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming dapat terlihat dari hasil yang dikeluarkan sejumlah lembaga survei.
Perolehan hasil survei Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming yang melesat, membuat sebagian kalangan mempertanyakan kompetensi lembaga survei.
Sejumlah kalangan masyarakat serta politisi kemudian menganggap bahwa independensi sejumlah lembaga survei mengalami intervensi.
Anggapan terkait dengan hasil lembaga survei tersebut, salah satunya diucapkan oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.
“Ada tiga paslon lalu muncul narasi satu putaran, itu survei dipakai sebagai alat pemenangan,” ungkap Hasto.
Hasto menjelaskan, salah satu cara yang dilakukan oleh lembaga survei adalah dengan membagi-bagikan sejumlah barang kebutuhan harian, seperti beras.
“Kalau mau survei, diintervensi dulu, misalnya dibagi beras, kan di lapangan sudah ada itu beras bergambar Pak Prabowo- Mas Gibran,” imbuhnya.
Terus menurunnya elektabilitas pasangan Ganjar-Mahfud yang disalip pasangan Anies-Muhaimin versi survei, menurut kalangan PDIP perlu dipertanyakan objektivitasnya.
Baca Juga: Tes Kepribadian: Satukan Kedua Telapak Tanganmu dan Cari Tahu Makna di Baliknya
Menurut Dedy Kurnia Syah Selaku Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion IPO menilai, naiknya elektabilitas Anies karena turunnya elektoral Ganjar.
“Maka kontestasi yang paling kuat itu adalah Prabowo Subianto dengan Ganjar Pranowo, Anies termasuk yang diuntungkan dengan kontestasi ini,” jelas Dedy.
Dedy menambahkan, tidak stabilnya dukungan ke kubu Prabowo atau Ganjar, menunjukkan pendukung Anies yang stabil, mapan dan seimbang.
Sehubungan dengan pernyataan PDIP yang menyebut bahwa hasil survei dapat diintervensi, disanggah oleh M Qodari selaku Direktur Eksekutif Indo Barometer.
Menurutnya, proses yang dilakukan lembaga survei dalam melakukan riset telah dilakukan dengan objektivitas sebagai pertanggungjawaban.
“Kalau melakukan survei tidak objektif, itu sama dengan menembak kaki sendiri, itu namanya bodoh,” sanggah Qodari.
Terkait dengan pernyataan Sekjen PDIP yang menilai bahwa lembaga survei mengalami intervensi, Juru Bicara TKN Prabowo-Gibran memberikan pernyataan.
Baca Juga: Tips WhatsApp: Cara Agar Pesan WA Tetap Centang 1 padahal Online, Chat Dibaca Nggak Bakal Ketahuan
Menurut Jansen Sitindaon, survei merupakan sebuah hasil pencarian data yang didapat dengan melalui proses ilmiah.
Sehingga dalam proses mendapatkannya juga mengikuti sejumlah aturan yang tidak bertentangan dengan kaidah ilmiah.
Namun demikian, Jansen tidak menampik jika dari hasil yang didapatkan oleh lembaga survei justru membuahkan ketidak-percayaan.
“Sebagai sebuah data ilmiah maka kita harus terima, soal percaya atau tidak kembali ke masing-masing orang,” jelas Jansen.
Karena itu, politisi dari Partai Demokrat ini mempersilahkan pihak-pihak yang tidak percaya hasil survei untuk membuat data ilmiah pembanding.
Demikian seperti dikutip Ayojakarta, Senin 27 November 2023 dari kanal Youtube tvOneNews.***

Share this article
Perolehan hasil survei Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming yang melesat, membuat sebagian kalangan mempertanyakan kompetensi lembaga survei.