AYOJAKARTA.COM -– Mendekati pelaksanaan pesta demokrasi, nama calon presiden Anies Baswedan semakin menjadi bahan perbincangan.
Beragam kabar dan pemberitaan terkait dengan Anies Baswedan juga mendapat sorotan khusus dari sejumlah kalangan.
Ada yang menganggap Anies Baswedan sebagai antitesa Jokowi, tidak sedikit pula yang justru memandangnya dari persepsi berbeda.
Baca Juga: Anies Baswedan dan Puan Berangkat Haji Barengan, Politisi Demokrat: Saya Kok Punya Feeling...
Anggapan-anggapan yang berkembang tersebut bukan saja semata lahir karena pernyataan Anies dalam menyikapi situasi menjelang pemilu.
Lebih jauh lagi, ada yang justru menilai bahwa reaksi yang disampaikan Anies merupakan bentuk playing victim untuk meraih simpati.
Sehubungan dengan anggapan berperan sebagai korban tersebut, dalam salah satu diskusi Anies memberi penjelasan.
Menurutnya pernyataan-pernyataan yang disampaikan dalam sejumlah kesempatan tidak lain sebagai upaya menyelaraskan keadilan.
Baca Juga: Kemesraan AHY dan Puan Maharani Ramai Diperbincangkan, Anies Baswedan Beri Jawaban Santai Begini
“Ketika saya dilantik, sumpah itu adalah menjalankan pemerintahan dengan baik dimana salah satu kalimatnya menjaga prinsip keadilan,” jelas Anies.
Dimana sikap cawe-cawe yang dilakukan pemerintah dalam pengertian positif, tidak lain bentuk tanggung jawab seluruh jajaran di pemerintahan.
Timbulnya gejolak di barisan pendukung terhadap aksi cawe-cawe dalam pelaksanaan pemilu yang berarti tidak netral, Anies juga mendapat tanggapan.
“Saya berharap tidak begitu, saya berharap presiden akan mengambil sikap untuk setara di dalam pelaksanaan pemilu,” ujar Anies.
Namun demikian Anies tidak menyangkal bahwa secara pribadi, seorang presiden juga memiliki pilihan politik.
Terkait dengan adanya anggapan atau upaya-upaya yang dinilai sebagai bentuk penjegalan dengan mengangkat kasus-kasus lawas semisal Formula E, Anies memberi pernyataan.
Menurut Anies setiap peristiwa yang terjadi tidak akan bisa terlepas dari sebuah opini ataupun penafsiran yang berbeda.
Sehingga jika kemudian dimaknai sebagai bentuk dugaan korupsi oleh lawan politik, Anies menilai hal tersebut bisa dibuktikan dengan penelusuran.
“Tahun 2019 sudah diaudit, tahun 2021 diaudit lagi oleh BPK, tahun 2022 diaudit lagi, saya rasa tidak banyak kegiatan yang direview sampai tiga kali,” jelas Anies.
Baca Juga: Ramai Soal Tudingan Tak Akan Lanjutkan Program IKN Anies Baswedan: Jawaban Saya Selalu...
Lebih lanjut Anies menjelaskan bahwa dari ketiga pemeriksaan yang dilakukan tidak ditemukan adanya masalah.
“Jadi dari situ kita boleh menyimpulkan, kalau sekedar kata belum tentu itu faktual,” tambah Anies kepada Andy F Noya.
Sehubungan dengan adanya anggapan yang menyebut bahwa KPK mengalami kesulitan karena Anies merupakan sosok penting, Anies memberi tanggapan.
Menurut Anies sebagai salah satu lembaga tinggi negara, KPK memiliki hak untuk bisa memanggil siapapun tanpa perlu merasa kesulitan.
“KPK bisa memanggil siapa saja, dan kita sudah saksikan itu,” pungkas Anies seperti dikutip Ayojakarta pada Senin, 19 Juni 2023 dari Youtube Metro TV.***(Karseno AJ)

Share this article
Ada yang menganggap Anies Baswedan sebagai antitesa Jokowi, tidak sedikit pula yang justru memandangnya dari persepsi berbeda.