AYOJAKARTA.COM – Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengimbau warga wilayah dengan status siaga bencana hidrometeorologi tidak keluar rumah apabila tidak ada keperluan mendesak.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah menetapkan status Siaga selama 28 sampai 30 Desember untuk wilayah di tujuh provinsi yaitu:
1. Banten
2. DKI Jakarta
3. Jawa Barat
4. Jawa Tengah
5. Jawa Timur
6. Nusa Tenggara Barat (NTB)
7. Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dengan prakiraan berbasis Impact-Based Forecast (IBF), cuaca ekstrem di wilayah tersebut berpotensi memunculkan bencana hidrometeorolgi berupa banjir, genangan air, dan tanah longsor.
“Wilayah tersebut diprakirakan dapat mengalami hujan lebat yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi," ujar Dwikorita dalam siaran pers BMKG.
Dampak hidrometeorologi dapat menyebabkan volume aliran sungai berpotensi meningkat dengan drastis sehingga menimbulkan potensi banjir dan banjir bandang.
Selain itu, cuaca ekstrem berupa hujan lebat besar kemungkinan menimbulkan potensi tanah longsor, guguran bebatuan, atau erosi tanah. Fenomena itu bisa terjadi di daerah-daerah dataran tinggi dan lereng-lereng perbukitan dan gunung.
Untuk itu, kata Dwikorita, BMKG mengimbau kepada pemerintah daerah dan masyarakat yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai dan wilayah perbukitan lebih waspada.
“Mohon kepada masyarakat untuk berhati-hati jika beraktivitas di luar rumah. Jika tidak ada keperluan mendesak, maka sebaiknya di rumah saja menunggu cuaca kembali normal,” kata Dwikorita.
Baca Juga: Ramai Badai Dahsyat Hingga Sebut Tol Hujan, Begini Tanggapan Daryono BMKG
Semua pihak, katanya, harus meningkatkan kesiapsiagaan terutama apabila terjadi hujan lebat dalam intensitas yang cukup lama.
Peningkatan Curah Hujan
Sementara itu, Deputi Meteorologi BMKG Guswanto menerangkan bahwa potensi cuaca ekstrem ini dipicu oleh aktifnya sejumlah fenomena dinamika atmosfer di sekitar wilayah Indonesia.
Cuaca ekstrem itu berpotensi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di beberapa wilayah. Sebagai contoh, peningkatan aktifitas Monsun Asia yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah dan selatan.
Selain itu, kata Guswanto, peningkatan intensitas fenomena cold surge atau seruakan dingin disertai dengan potensi arus lintas ekuatorial sehingga aliran massa udara dingin dari Asia memasuki wilayah Indonesia juga dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan terutama di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.
BMKG juga melihat dinamika atmosfer lainnya berupa indikasi pembentukan pusat tekanan rendah di sekitar wilayah Australia. Kondisi itu bisa memicu peningkatan pertumbuhan awan konvektif yang cukup masif dan berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi.
Keadaan itu juga dapat memicu peningkatan kecepatan angin permukaan dan peningkatan tinggi gelombang di perairan sekitarnya.
Fenomena lainnya yang signifikan, ugnkap Guswanto, adalah fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang aktif bersamaan dengan fenomena gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial.
Kondisi itu berkontribusi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia terutama di bagian tengah dan timur.
“Kepada masyarakat, kami imbau untuk tidak panik tetapi tetap waspada, dan terus memonitor informasi perkembangan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG. Pangkas dahan dan ranting pohon yang rapuh serta menguatkan tegakan atau tiang agar tidak roboh tertiup angin kencang,” pungkasnya. ***

Share this article
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta masyarakat di wilayah berstatus siaga bencana tidak keluar rumah dulu pada 28-30 Desember.