AYOJAKARTA.COM - Bukan hanya karena cuaca ekstrem, banjir bandang di wilayah Sumatera Utara (Sumut) yang sudah terjadi sejak Senin, 24 November 2025 ada campur tangan manusia.
Hingga 26 November 2025 diketahui bencana banjir bandang ini sudah menewaskan 34 orang dari beberapa wilayah.
Selain itu 52 orang dinyatakan hilang hingga saat ini.
Hal ini disampaikan oleh Kabid Humas Polda Sumut Kombes Ferry Walintukan, yang menambahkan bahwa 148 kejadian bencana Sumatera Utara telah terjadi hingga Rabu, 26 November 2025.
BMKG sendiri menyebutkan beberapa wilayah berpotensi mengalami cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar.
Daerah tersebut yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau hingga Sumatera Barat.
Namun benarkah bencana banjir bandang ini hanya berasal dari cuaca ekstrem?
Dikutip ayojakarta.com dari siaran resmi Walhi Sumatera Utara yang merupakan forum kelompok organisasi yang terdiri dari organisasi non-pemerintah, kelompok pecinta alam dan kelompok swadaya masyarakat.
Melalui Manajer Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut, Jaka Kelana Damanik menyebutkan bahwa banjir yang tiba terlihat banyaknya kayu-kayu terbawa air.
Selain itu terlihat kondisi hutan yang gundul di sekitar lokasi bencana, hal ini menunjukan bahwa campur tangan manusia turut menyumbang terjadinya bencana.
Jaka menilai campur tangan tersebut dapat terjadi karena adanya keputusan politik maupun kebijakan yang dikeluarkan atas nama pembangunan dan ekonomi.
Dalam kondisi inilah bencana tidak hanya dikaitkan dengan keadaan alam secara murni, akan tetapi menjelma menjadi bencana ekologis.
Kegagalan negara dalam mengurus lingkungan menyebabkan krisis ekologis yang berujung pada bencana ekologis, artinya bahwa negara dalam hal ini pemerintah atau pengambil kebijakan berperan besar atas bencana ekologis yang terjadi saat ini.
Tidak sedikit yang menunjukan pula adanya aktivitas penebangan hutan di wilayah sekitar bencana yang juga merupakan bagian dari ekosistem batang toru (harangan tapanuli).
Laju deforestasi di wilayah ini sulit dibendung karena perusahaan-perusahaan yang beraktivitas di ekosistem batang toru (harangan tapanuli) melakukan penebangan pohon dengan berlindung dibalik izin yang dikeluarkan pemerintah.
Perusahaan Tambang Emas Martabe, PT Agincourt Resources
Salah satu perusahaan yang selama ini dinilai menjadi penyumbang terbesar kerusakan hutan di ekosistem batang toru (harangan tapanuli) yakni perusahaan tambang emas martabe, PT Agincourt Resources.
Tambang Emas Martabe melakukan kegiatan operasional berdasarkan Kontrak Karya (KK) selama 30 tahun dengan Pemerintah Indonesia.
Awalnya pada tahun 1997, wilayah pertambangan mencakup 6.560 km², kemudian area konsesi mengalami perkembangan menjadi 130.252 hektar (1.303 km²), meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Mandailing Natal.
Berdasarkan dokumen AMDALnya, perusahaan ini menghasilkan 6 juta ton emas pertahun.
Tak puas dengan hasil emas yang ada saat ini, PT AR berencana akan meningkatkan jumlah produksi emas dari 6 jutan ton/tahun menjadi 7 juta ton/tahun dengan dalih perlu membuat fasilitas tailing, utilitas pendukung, dan beberapa perubahan kegiatan operasional PT AR.
Hal ini tercantum dalam dokumen addendum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) PT AR tahun 2020.
Dalam hal ini, PT AR membutuhkan pembukaan lahan seluas 583 Hektar untuk tailing management facilities (TMF) dan tercantum bahwasannya dalam membuka lahan tersebut akan dilakukan penebangan pohon sebanyak 185.884 pohon.
Secara tegas dokumen AMDAL juga menerangkan dampak hipotetik terpilih atas rencana perluasan lahan tersebut yakni perubahan pola aliran sungai, peningkatan limpasan air permukaan (run off), penurunan kualitas air permukaan, penurunan kualitas air tanah, hilangnya tutupan vegetasi dan perubahan struktur komposisi spesies flora terrestrial, hilangnya habitat dan perubahan habitat fauna.
Hasil investigasi terbaru Walhi Sumatera Utara, PT AR sedang melakukan proyek tersebut dan telah melakukan pembukaan lahan sekitar 120 hektar.***

Share this article
Bukan hanya karena cuaca ekstrem, banjir bandang di wilayah Sumut yang sudah terjadi sejak Senin, 24 November 2025 ada campur tangan manusia.