AYOJAKARTA.COM - Erina Gudono, menantu Presiden Indonesia Joko Widodo, menjadi pemberitaan setelah sejumlah warga Indonesia mendesak University Pennsylvania untuk mencabut beasiswa yang diterimanya di School of Social Policy & Practice (SP2).
Erina Gudono yang merupakan istri dari Kaesang Pangarep ini sempat mengumumkan penerimaan beasiswanya melalui unggahan Instagram pribadinya pada 28 Juli 2024.
Sejak itu, banyak pihak mempertanyakan kelayakannya sebagai penerima beasiswa, mengingat statusnya sebagai individu dengan latar belakang istimewa.
Protes di media sosial seperti platform X (dahulu Twitter) dan Instagram mulai muncul, menandai akun resmi Penn di unggahan Erina dan juga dalam keterangan kritis mereka sendiri.
Beberapa pihak bahkan dikabarkan melancarkan kampanye email massal, mendesak universitas tersebut untuk mencabut beasiswa yang dianggap tidak pantas diberikan kepada Erina.
Dalam unggahannya, Erina mengungkapkan rasa syukur atas rezeki yang diterimanya.
"Saya tidak menyangka bahwa Allah SWT akan begitu baik dalam menyediakan rezeki untuk anak-anak dan kuliah pada saat yang sama dalam satu tahun pernikahan," tulisnya, yang sempat mendapatkan lebih dari 100.000 like.
Erina juga menyebutkan bahwa kedua orang tuanya telah menetap di Pennsylvania setelah pernikahannya, namun kini unggahan itu sudah dinonaktifkan kolom komentar.
Dikutip dari X @dailypenn, Jumat (20/9/2024) salah satu pengkritik, lulusan Columbia University Patricia Kusumaningtyas, menyatakan kepada The Daily Pennsylvanian bahwa sebagian besar kekecewaan publik terkait dengan gaya hidup mewah Erina serta kurangnya respons terhadap situasi politik dan protes yang terjadi di Indonesia.
Kusumaningtyas menyoroti krisis politik terkait keputusan Mahkamah Konstitusi Indonesia yang melonggarkan syarat pencalonan kandidat oleh partai politik, yang menyebabkan protes besar di Jakarta.
Menurut Kusumaningtyas, ketidakpedulian Erina terhadap isu politik dalam negeri, termasuk aksi protes terhadap mosi darurat yang diusulkan oleh Parlemen Indonesia, semakin memperkeruh perdebatan.
Ia menilai bahwa meskipun Erina berhak mengejar pendidikan, pihak Penn perlu mempertimbangkan dengan lebih teliti calon penerima beasiswa di masa depan, terutama jika mereka berasal dari latar belakang yang berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia atau demokrasi di negara asalnya.
Di tengah riuhnya desakan ini, baik Erina maupun pihak SP2 belum memberikan tanggapan resmi.
Namun, tekanan publik dan media terus meningkat, dengan banyak pihak mempertanyakan apakah beasiswa tersebut layak diberikan kepada seseorang dengan status sosial dan politik yang kontroversial.
Beberapa pihak mendukung haknya untuk mendapatkan pendidikan, namun desakan pencabutan beasiswa terus mengemuka seiring kritik terhadap pemerintahan Jokowi dan keterlibatan Erina sebagai menantu presiden.***

Share this article
Heboh Erina Gudono disorot media kampus Universitas Pennsylvania sampai diminta untuk cabut beasiswa.