AYOJAKARTA.COM – Mendekati waktu pemilihan presiden, sejumlah pernyataan terkait Pemilu Satu Putaran makin sering digaungkan.
Sejumlah kalangan menilai, ramainya pernyataan Pemilu Satu Putaran justru menunjukkan adanya kekhawatiran jika pemilu berlangsung dua putaran.
Di samping menunjukkan adanya kekhawatiran, pernyataan Pemilu Satu Putaran juga memperlihatkan adanya peluang kecurangan.
Potensi adanya kecurangan dan rekayasa Pemilu dapat terlihat dari berbagai fenomena sosial, hukum dan politik yang berkembang di tengah masyarakat.
Baca Juga: Rismon Sianipar Pertanyakan Kemampuan Antonia Ratih, Saksi Ahli Psikolog Persidangan Jessica Wongso
Terlebih karena sejak awal proses kontestasi Pemilu mulai dilakukan, sejumlah indikasi adanya kecurangan juga sudah banyak diperlihatkan.
Perubahan syarat bagi cawapres, dugaan keberpihakan pemerintah kepada salah satu pasangan hingga kreativitas kaum muda yang diberantas merupakan sinyalemen.
Penghentian tayang videotron bergambar Anies Baswedan yang kini ramai diperbincangkan, merupakan salah satu indikasi adanya keberpihakan.
Adanya segelintir orang yang dengan mudah diberikan keistimewaan sementara sebagian lagi tak diberi kesempatan menjadi pertanda adanya keberpihakan.
Pernyataan tersebut disampaikan Geisz Chalifah yang merupakan Jubir Timnas AMIN dalam sebuah diskusi.
“Ini demokrasi kita jadi rusak karena keinginan berkuasa yang tidak menggunakan cara-cara demokratis, ini diskriminasi,” jelas Geisz.
Terkait dengan jargon Pemilu Satu Putaran, pernyataan senada juga disampaikan Chico Hakim yang merupakan Jubir TPN Ganjar-Mahfud MD.
Menurutnya, peluang terjadinya pemilu satu putaran masih belum bisa dipastikan karena hasil survei tidak menunjukkan kondisi tersebut.
Adanya tingkat persaingan elektabilitas yang sangat ketat, menurut Chico banyak disikapi dengan membuat jargon kemenangan sebelum terjadinya pertarungan.
“Artinya, ini ada persepsi yang dibangun sehingga kalau nanti ada kecurangan akan dianggap biasa, ini yang kita sayangkan,” jelas Chico.
Berkenaan dengan adanya peluang curang dalam pemilu serta jargon pemilu satu putaran, Jubir TKN Prabowo-Gibran memberi pernyataan.
Menurut Viva Yoga, kekhawatiran yang berkembang di masyarakat atau di kontestan lain merupakan hal yang sebenarnya tak perlu dikhawatirkan.
Baca Juga: Videotron Anies Baswedan Diturunkan Baru Sehari Dipasang: Sebuah Tantangan Demokrasi
Sebab seluruh proses yang berkenaan dengan pemilu telah didasarkan pada peraturan perundang-undangan dan sah secara hukum.
Adapun jargon yang menyebut bahwa proses pemilu akan berlangsung dalam satu putaran, hal tersebut merupakan optimisme setiap kontestan.
“Segala landasan hukum sebagai landasan pemilu sudah diketuk palu, narasi pemilu satu putaran semua calon melakukan hal yang sama,” jelasnya.
Karena itu, Viva berharap agar setiap permasalahan yang terjadi terkait pemilu, diselesaikan melalui Bawaslu.
“Kalau ada intimidasi dan potensi kecurangan, laporkan ke Bawaslu,” tegas Viva Yoga dikutip Ayojakarta.com pada Rabu 17 Januari 2024 dari YouTube Metro TV.***

Share this article
Benarkah narasi pemilu satu putaran menyimpan indikasi kecurangan dan merusak nilai demokrasi di Indonesia?