AYOJAKARTA.COM – Ketatnya persaingan yang terjadi di antara sesama peserta Pilpres 2024 membuat optimisme pemilu satu putaran mengalami pergeseran.
Menghadapi pelaksanaan Pilpres 2024 yang tinggal menghitung hari, masing-masing kubu masih kesulitan mencari dukungan publik.
Anggapan tersebut mencuat karena menurut sejumlah lembaga survei memastikan belum ada peserta Pilpres 2024 yang mendominasi keunggulan dibanding paslon lain.
Terkait adanya potensi dua putaran, sejumlah narasi lahirnya koalisi mulai berkembang di masyarakat.
Momen percakapan singkat antara Puan Maharani dengan Anies Baswedan menjadi indikasi lahirnya anggapan tersebut.
Publik berasumsi, guna berjaga-jaga jika pasangan 01 dan 03 harus menerima kekalahan, maka hubungan baik itu perlu dirintis sejak awal.
Selain berdasarkan hasil survei, pernyataan mengenai pilpres yang akan berlangsung dalam dua putaran juga sempat disampaikan Jusuf Kalla.
Saat bicara di hadapan awak media, JK menyinggung kecenderungan lahirnya koalisi baru bagi yang menempati peringkat kedua dan ketiga.
“Biasanya yang selalu bersatu itu yang ranking dua dengan ranking tiga, sehingga bikin koalisi baru,” jelas JK dikutip ayojakarta.com dari YouTube tvOneNews, Senin (15/1/2024).
Baca Juga: Sujiwo Tejo Sebut Prabowo di Debat Pilpres Ketiga Tidak Diperlakukan sebagai Capres: Itu Fatal!
Berkenaan dengan adanya kedekatan antara Koalisi Perubahan dengan koalisi pendukungnya, Ganjar Pranowo memberi pernyataan.
Menurut Ganjar, sebagai salah satu peserta Pilpres 2024 pihaknya terus mengupayakan menjalin kerjasama dengan seluruh partai.
Sehubungan adanya gagasan tentang koalisi, Presiden Partai Keadilan Sejahtera Ahmad Syaikhu memberi tanggapan.
“Insya Allah saya itu terbuka pada semua kalangan, karena kita nggak tahu juga dengan siapa nanti kita masuk,” ujarnya.
Ahmad Syaikhu menambahkan pemilu bukanlah merupakan momentum menabur perpecahan namun justru sebuah tawaran persatuan.
Senada dengan pernyataan Presiden PKS, Habiburokhman selaku Wakil Ketua TKN Prabowo-Gibran juga menyinggung hal yang sama.
Meski Koalisi Indonesia Maju optimis akan maju ke putaran kedua, namun kesempatan untuk berkoalisi tetap akan dibuka.
“Misalnya pada putaran pertama belum dapat kesempatan maju, kan itu yang akan bikin dag-dig-dug,” ungkap Habiburokhman.
Kendati demikian, suara publik setelah 14 Februari 2024 akan menjadi penentu akhir lahirnya koalisi baru.
Sebab di tanggal tersebut, suara rakyat akan menjadi penentu paslon nomor urut berapa yang akan tersingkir dari kontestasi di putaran pertama.
Lebih jauh, perkiraan semacam itu juga belum sepenuhnya bisa dipastikan mengingat politik merupakan suatu fenomena yang tak mudah diterka.***
Share this article
Pasangan 01 dan 03 bakal bersatu membuat koalisi baru jika Pilpres 2024 satu puataran gagal terealisasi?