AYOJAKARTA.COM – Pengamat Komunikasi Politik Hendri Satrio menilai pemilihan presiden satu putaran merupakan suatu kemustahilan.
Disamping adanya kesadaran berpolitik rakyat yang kian meningkat, pemilihan presiden satu putaran menjadi mustahil karena setiap calon memiliki elektabilitas yang ketat.
Berdasarkan fakta dan pengalaman, pemilihan presiden satu putaran sebagaimana sering digaungkan Koalisi Indonesia Maju diprediksi tidak akan menjadi kenyataan.
Menurut Hendri Satrio, salah satu pencetus lahirnya kesadaran berpolitik rakyat Indonesia adalah akibat adanya kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah.
Praktik-praktik korupsi yang berulang kali terjadi, hukum yang tidak bisa dijadikan panutan, hingga pelanggaran konstitusi, membuat kesadaran publik terusik.
Karena itu, Hendri berpendapat upaya untuk merealisasikan pilpres satu putaran oleh koalisi pendukung pemerintah benar-benar sangat diperjuangkan.
“Saya nggak nemu alasan buat Pendukung Jokowi untuk tidak memaksakan ini harus satu putaran,” papar Hendri saat menjadi narasumber di siniar Abraham Samad Speak Up.
Baca Juga: Bikin Penasaran, Ternyata Ini Alasan Prabowo Subianto Akan Impor 1,5 Juta Sapi Perah
Hendri menambahkan, bentuk pemaksaan keberlanjutan yang selama ini sudah dilakukan dapat dilihat dari adanya fenomena di masyarakat.
Mahkamah Konstitusi yang dibuat kocar-kacir, surat suara yang tersebar diluar jadwal, menurut Hendri merupakan bagian dari perjuangan tersebut.
“Dengan fenomena ini, rakyat Indonesia, pasangan nomor satu dan nomor tiga harus bersiap untuk menghalangi supaya tidak satu putaran,”jelas Hendri.
Berdasarkan hasil survei yang terus dilakukan, Hendri menilai rakyat Indonesia tidak sepenuhnya setuju dan mendukung pasangan Prabowo-Gibran atas nama Jokowi.
Baca Juga: Bikin Penasaran, Ternyata Ini Alasan Prabowo Subianto Akan Impor 1,5 Juta Sapi Perah
Meski tingkat kepuasan terhadap Jokowi masih cukup tinggi, namun rakyat memahami bahwa Prabowo-Gibran bukanlah Jokowi.
Berkaca pada realitas politik, menurut Hendri di tahun 2023 yang baru saja berlalu merupakan tahun terburuk sepanjang era reformasi.
“Korupsi menggila, nepotisme dipertontonkan terang-terangan, kepatutan dan kewarasan dihilangkan, semua ada termasuk dinasti politik yang langsung diserahkan di atas meja,”
Dengan fakta-fakta nyata yang terjadi, upaya meneruskan kekuasaan Jokowi melalui pasangan Prabowo-Gibran menjadi satu-satunya kesempatan.
Namun demikian Hendri bersyukur atas cara kerja alam semesta yang dengan santun terus memperlihatkan sejumlah pelanggaran yang patut dicurigai.
“Kecurigaan itu perlu buat demokrasi, sebab kalau tidak kekuasaan akan berlanjut,” tegas Hendri terkait pendistribusian surat suara di Taiwan.
Baca Juga: Tinggalkan Anak Perempuan 3 Tahun, Postingan Terakhir Masinis Julian Dwi Setiono Jadi Sorotan
Pernyataan Jokowi yang mengetahui proses pengiriman surat suara dengan alasan ketakutan akan kantor pos yang tutup, menurut Hendri perlu dicurigai.
“Kalau Presiden mengkonfirmasi, hipotesa saya bahwa tidak ada alasan bagi Jokowi dan pasangan nomor dua untuk tidak memaksakan satu putaran,” ungkapnya.

Share this article
Pengamat Komunikasi Politik Hendri Satrio menilai pemilihan presiden satu putaran merupakan suatu kemustahilan.