AYOJAKARTA.COM – Sejalan dengan agenda yang telah ditetapkan penyelenggara pemilu, debat perdana cawapres akan digelar malam ini.
Cawapres Muhaimin Iskandar, Gibran Rakabuming Raka serta Mahfud MD akan saling beradu visi misi dan argumentasi guna memperebutkan suara pemilih.
Bukan hanya kepiawaian cawapres dalam berdialektika yang akan menjadi penilaian debat, tetapi juga kecerdasan dalam mengelola emosi.
Terkait dengan kecerdasan emosi sebagai salah satu indikasi kematangan, cawapres nomor urut dua digadang sebagai cawapres dengan kemampuan mengelola emosi terburuk.
Penilaian tersebut diketahui saat diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber digelar beberapa waktu lalu.
Sejumlah narasumber seperti Ray Rangkuti, Adi Prayitno, serta Reza Indragiri bersuara bulat menilai kemampuan Gibran dalam mengelola emosi masih kurang.
Sehubungan dengan alasan penilaian Gibran sebagai cawapres dengan kemampuan mengelola emosi terburuk, Psikolog Forensik Reza Indragiri memberi penjelasan.
Baca Juga: Ditanya Soal Persiapan Debat Cawapres, Gibran Rakabuming Menjawab dengan Irit dan Simpel
Menurut Reza, putra sulung Jokowi tersebut masih salah kaprah memaknai pentingnya emosi di dalam kehidupan manusia.
Ketika tampil di tempat umum, Reza melihat Gibran yang merupakan tokoh publik selalu mencoba tampil dengan ekspresi seolah-olah tenang dan datar.
Padahal menurut Reza, sebagai seorang tokoh publik sekaligus pemimpin mempertontonkan ekspresi emosi merupakan suatu keharusan.
“Emosi justru menjadi pertanda keseriusan dia, penghayatan dia tentang isu yang sedang diperbincangkan,” jelas Reza.
Sementara dalam kenyataannya, Reza kerap melihat Gibran tampil dengan ekspresi yang sama pada berbagai situasi dan kondisi.
Adanya kesamaan dalam menampilkan ekspresi emosi tersebut, menurut Reza seakan menjadi pertanda kurangnya kepedulian Gibran atas suatu permasalahan.
“Dia salah kaprah menganggap bahwa emosional adalah sama dengan tempramental, pemimpin tidak boleh tempramental,” imbuh Reza.
Karenanya, penting bagi seorang pemimpin untuk bisa menampilkan aspek emosional sebagai bentuk penghayatan dan keseriusan.
Saat debat capres perdana berlangsung, Reza menilai Gibran sempat mengalami kondisi yang dalam istilah psikologi disebut Kompensatoris.
Situasi tersebut terlihat ketika Gibran tiba-tiba berdiri dan mengajak audiens untuk bereaksi ketika capres Prabowo sedang menanggapi pertanyaan capres Anies Baswedan.
“Gibran saat itu berada dalam kecemasan yang luar biasa, tetapi cara dia mengkompensasikannya adalah dengan menampilkan perilaku eskpresif luar biasa.”
Adanya perubahan perilaku yang timbul karena suatu tekanan tertentu, menurut Reza merupakan hal wajar dan alami bagi manusia kebanyakan.
“Sayangnya cara dia mengekspresikan justru menunjukkan perilaku yang nir etik,” pungkas Reza dikutip Ayojakarta, Jumat 22 Desember 2023 dari Metro TV.

Share this article
Bukan hanya kepiawaian cawapres dalam berdialektika yang akan menjadi penilaian debat, tetapi juga kecerdasan dalam mengelola emosi.