AYOJAKARTA.COM – Kasus kopi sianida yang menyeret Jessica Wongso kembali mencuat ke publik.
Temuan-temuan baru muncul hingga membuat persepsi baru di masyarakat.
Banyak yang merasa bahwa Jessica Wongso tidak bersalah dalam kematian Wayan Mirna Salihin.
Salah satu saksi ahli yang didatangkan kubu Jessica Wongso dalam persidangan juga menguak beberapa kejanggalan.
Saksi ahli ini adalah Rismon Sianipar yang pada saat awal kasus kematian Mirna Salihin ditunjuk kuasa hukum Jessica Wongso sebagai saksi ahli digital forensik.
Sejak kasus kematian Mirna Salihin tahun 2016 disidangkan, Rismon Sianipar meyakini bahwa CCTV Kafe Olivier yang dijadikan sebagai alat bukti merupakan hasil rekayasa.
Dalam sebuah podcast yang ditayangkan dalam YouTube Diskursus Net, ahli digital forensik ini membongkar sosok yang diduga merekayasa CCTV kasus Jessica Wongso.
Hal ini tampak dari resolusi kamera yang berbeda.
Rismon Sianipar membandingkan dua BAP dan didapatkan beberapa fakta mengejutkan.
“Saya sampaikan bahwa saya temukan dengan membandingkan dua BAP. Saya temukan bahwa dalam satu kamera berbeda rentang satu jam itu memiliki resolusi yang berbeda satu FHD full high definition yang satu mengatakan standard definition dan itu rekayasa,” ujar Rismon Sianipar dikutip Ayojakarta.com dari YouTube Diskursus Net, Rabu (29/11/2023).
Dalam podcast disampaikan bahwa sosok yang diduga merekayasa CCTV kasus Jessica Wongso adalah Muhammad Nuh Al-Azhar yang merupakan ahli digital forensik dari Polri.
Rismon Sianipar mengungkapkan bahwa Muhammad Nuh melakukan downscaling yang menyebabkan objek menjadi kasar dan kabur.
“Muhammad Nuh, dia yang melakukan downscaling. Downscaling itu menyebabkan objek menjadi kasar dan kabur,” ungkapnya.
“(Muhammad Nuh menyatakan itu SD atau standard definition) iya itu rekayasa dan itu pantang untuk dilakukan,” tegasnya.
Setelah membandingkan dua BAP ahli digital forensik dalam kasus Jessica Wongso, Rismon Sianipar menyatakan bahwa hasil BAP Muhammad Nuh lah yang tidak benar.
Baca Juga: 3 Konflik Panas dalam Kasus Kopi Sianida Jessica Wongso yang Menjadi Sorotan Publik!
Karena dalam BAP Muhammad Nuh didapatkan hasil video memiliki resolusi standard definition (SD) yang mana hasilnya dalam resolusi rendah sehingga informasi yang didapatkan juga lebih rendah.
“Yang kita lihat saat ini kualitas videonya di bawah HD, blur, buram, berbayang, artifaknya kasar, pinggir-pinggir tepi itu kasar. Itu akibat dari scaling down dari 1920 ke 960,” ujar Rismon Sianipar.
Terkait alasan mengapa dirinya berani menuduh Muhammad Nuh sebagai sosok yang merekayasa CCTV, Rismon Sianipar menyebut bahwa dirinya menuduh bukan tanpa bukti tapi berdasarkan fakta BAP yang ada.
“(Yang melakukan rekayasa) Muhammad Nuh Al-Azhar, saya menuduh berdasarkan fakta BAP,” tegasnya.
Ternyata bukan hanya Muhammad Nuh saja yang disebut sebagai sosok yang merekayasa CCTV kasus Jessica Wongso.
Rismon Sianipar juga mengatakan bahwa ada satu ahli digital forensik lagi yang juga melakukan hal yang sama.
Ahli ini bernama Christopher Hariman yang juga didatangkan dalam persidangan 2016 silam.
“Akhirnya kan saya temukan bahwa Christopher Hariman Rianto juga melakukan rekayasa,” katanya.
Terkait apa motif keduanya melakukan rekayasa, Risman Sianipar mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui secara pasti dan hanya mereka berdua yang tahu.
Namun ia menegaskan bahwa akibat dari rekayasa tersebut berdampak besar pada penggiringan opini dan yang jelas merugikan Jessica Wongso hingga dijatuhi hukuman dipenjara selama 20 tahun.***

Share this article
Rismon Sianipar menduga dua ahli ini merekayasa CCTV kasus kopi sianida yang melibatkan Jessica Wongso.