AYOJAKARTA.COM – Menyambut peringatan hari Sumpah Pemuda, capres Anies Baswedan menghadiri acara Pameran Seni Melayu.
Kegiatan yang diselenggarakan di Tugu Kunstkring, Menteng, Jakarta Pusat tersebut, Anies Baswedan menerima Tanjak atau penutup kepala khas Melayu.
Selain mengingatkan pentingnya kreativitas, pada kesempatan tersebut Anies Baswedan juga mengajak peserta untuk menggenggam prinsip identitas kebangsaan.
Salah satu bentuk kreativitas yang menjadi identitas kebangsaan, menurut Anies adalah lahirnya bahasa Indonesia sebagai wujud pemersatu.
Terkait jumlah kosa kata di dalam Bahasa Indonesia, Anies menyebut akan menambah hingga mencapai 250 ribu kosa kata jika kelak terpilih sebagai Presiden.
Dengan adanya penambahan jumlah kosa kata, Anies percaya hal tersebut menjadi pertanda kayanya bahasa Indonesia.
“Bahasa Indonesia itu bisa diperkaya dan itu bisa dipercepat, sehingga Indonesia menjadi lebih kaya,” ungkapnya.
Anies menambahkan, literatur merupakan aspek lain kebudayaan yang menjadi identitas bangsa, sehingga peran pemerintah juga perlu dilibatkan.
Dalam pidatonya terkait peran bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, Anies mengajak peserta untuk bersikap reflektif atas perjalanan lahirnya Bahasa Pemersatu,
Sebab dengan mengenang proses lahirnya bahasa persatuan, maka semangat menjaga dan mempertahankan kebangsaan akan menjadi kepastian.
“Coba bayangkan apabila kita tidak menyepakati bahasa persatuan, kita akan menemukan banyak orang penerjemah,” ungkap Anies.
Mengingat pentingnya bahasa persatuan, Anies mengajak peserta untuk mensyukuri kreativitas yang telah dibuat pendahulu bangsa dengan melahirkan bahasa Indonesia.
Dengan adanya bahasa persatuan, Anies menilai interaksi menjadi efisien, kepercayaan mudah dibangun, serta terjalin rasa saling pengertian.
“Menyepakati satu bahasa persatuan yang disepakati 95 tahun lalu, itu adalah terobosan terbesar yang membuat Indonesia memiliki persatuan,” imbuhnya.
Salah satu hal menarik yang menurut Anies patut dijadikan contoh dari lahirnya Sumpah Pemuda adalah pemilihan bahasa melayu sebagai bahasa pemersatu.
Bahasa persatuan Indonesia bukan berakar pada bahasa Jawa, Sunda atau bahasa lain yang jumlah pengguna nya lebih banyak ketika itu.
“Tapi tokoh-tokoh yang hadir menyepakati menggunakan bahasa Melayu, inilah kontribusi terbesar bagaimana Melayu menjadi perekat,” ungkap Anies.
Baca Juga: Deretan Prestasi Gibran Rakabuming Raka, Pernah Menyandang Predikat Wali Kota Paling Populer
Dipilihnya Melayu sebagai bahasa perekat, menurut Anies juga merupakan suatu bentuk kemampuan kaum muda saat itu dalam memandang masa depan.
Berbeda dengan bahasa-bahasa lain yang memiliki jenjang stratifikasi dalam penggunaan, Anies menilai Bahasa Melayu lebih egaliter dan sejajar. Demikian seperti dikutip Ayojakarta pada Jumat, 27 Oktober 2023, dari kanal Youtube Kompas.com.

Share this article
Salah satu bentuk kreativitas yang jadi identitas kebangsaan, menurut Anies Baswedan, adalah lahirnya bahasa Indonesia sebagai pemersatu.