AYOJAKARTA.COM - Kisruh adanya ajaran menyimpang Panji Gumilang di Ponpes Al Zaytun kembali menjadi sorotan media.
Selain dikecam karena dianggap melakukan penistaan agama, pendiri Ponpes Al Zaytun juga dikabarkan melakukan gerakan makar.
Sejumlah kabar bahkan menyebut bahwa pusat gerakan Negara Islam Indonesia atau DI/TII bersembunyi dibalik nama besar Ponpes Al Zaytun.
Baca Juga: Kasus Ponpes Al Zaytun Memasuki Tahap Penyidikan, Ridwan Kamil: Masyarakat Mohon Tetap Kondusif
Menindaklanjuti polemik yang semakin berkembang, sejumlah penanganan segera dilakukan pemerintah.
MUI, Kementerian Agama, Menko Polhukam serta Wakil Presiden diketahui turut serta menyudahi polemik Ponpes Al Zaytun.
Selain menyoroti bangunan yang luas dan megah, mencuatnya kasus Ponpes Al Zaytun juga ikut menyeret sejumlah tokoh nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Imam Supriyanto, Pendiri Yayasan Pesantren Indonesia yang juga menaungi Ponpes Al Zaytun.
Imam menyebut, nama Jenderal Purnawirawan Moeldoko yang kini menjabat Kepala Staf Presiden ikut membekingi Ponpes Al Zaytun.
Sehubungan dengan adanya anggapan tersebut, Jenderal (Purn) Moeldoko sempat memberi keterangan.
Baca Juga: Dugaan Penistaan Agama di Ponpes Al Zaytun, Listyo Sigit: Kita Tunggu Saja Hasilnya
Menurut Moeldoko yang ketika itu masih menjabat sebagai Pangdam Siliwangi, dirinya sempat ditolak untuk menemui Panji Gumilang.
Setelah sejumlah upaya dilakukan, Moeldoko kemudian berkesempatan untuk dapat menemui Panji Gumilang.
Lebih lanjut, Moeldoko menjelaskan bahwa penolakan sempat terjadi bukan saja di Ponpes Al Zaytun, tetapi juga di sejumlah pondok lain di wilayah Jawa Barat.
Baca Juga: Kasus Ponpes Al Zaytun Milik Panji Gumilang Sebentar Lagi Akan Ada Tersangkanya Ungkap Mahfud MD
“Awalnya memang banyak yang resistance, setelah saya yakinkan tidak masalah, mari kita susun kurikulumnya sama-sama,” jelas Moeldoko.
Usai merancang kurikulum yang sesuai dengan wawasan kebangsaan dengan mengikutsertakan institusi penegak hukum, pesantren bisa menerima.
Akibat usaha memperkenalkan wawasan kebangsaan di kalangan pesantren yang dilakukan terbilang berhasil, hubungan Moeldoko kembali berlanjut.
Pada tahun 2018, ketika Ponpes Al Zaytun ingin membangun waduk untuk keperluan irigasi dan pertanian di lingkungan pesantren, Moeldoko diminta hadir.
“Waktu itu kita diundang untuk memberikan ceramah, sekaligus menancapkan pilar,” jelas Moeldoko.
Dalam kesempatan tersebut, Moeldoko yang berada di tengah-tengah pengurus pondok serta santri mengaku kagum dengan keragaman di Ponpes Al Zaytun.
“Yang memegang palu pertama, itu diwakili semua agama, saya melihat persoalan toleransinya cukup baik,” imbuh Moeldoko.
Terkait dengan adanya anggapan bahwa Ponpes Al Zaytun tidak sekedar sebuah bangunan pendidikan, Moeldoko memberi tanggapan.
Menurutnya jika memang ada indikasi kepada tindakan makar atau penyimpangan terhadap ajaran agama, maka langkah-langkah pemulihan perlu dilakukan.
Beredarnya anggapan yang menyebut bahwa dirinya menjadi salah satu beking gerakan operasional di Ponpes Al Zaytun, Moeldoko memberi sanggahan.
“Tidak! Apa kepentingan saya kepada mereka, harus jelas!” pungkas Moeldoko seperti dikutip AyoJakarta.com pada Jumat, 7 Juli 2023 dari YouTube tvOnenews.***

Share this article
Moeldoko dengan tegas membantah usai dirinya dituding sebagai orang yang membekingi Ponpes Al Zaytun.