AYOJAKARTA.COM – Menjelang perayaan Hari Raya Waisak, umat Buddha akan kembali melakukan refleksi perjalanan hidup Sang Buddha.
Dari kelahiran Pangeran Sidharta, mencapainya Pencerahan hingga kematian atau Parinibbana merupakan esensi Tri Suci perayaan Waisak.
Disebut Tri Suci, karena ketiga peristiwa besar dalam kehidupan Sang Budha tersebut terjadi pada bulan yang sama yakni bulan Vesakha atau disebut Waisak.
Baca Juga: 5 Tanda Seseorang Punya Daya Tarik yang Kuat, Kadang Tidak Disadari Loh, Apa Saja?
Meninggalkan keluarga di usia 29 tahun, Pangeran Siddharta mencari kebebasan dari 4 peristiwa yang akan dialami oleh setiap manusia.
Adapun empat peristiwa besar tersebut antara lain adalah kelahiran, penuaan, peristiwa sakit serta kematian.
Di usianya yang ke 35 tahun, tepat di waktu purnama Waisak, Pangeran Sidharta berhasil mencapai pencerahan sempurna.
Dengan pencerahan yang telah diraihnya tersebut, Pangeran Sidharta kemudian menjadi Samma Sang Buddha.
Baca Juga: 5 Tanda Kamu Adalah Orang yang Pintar Mengendalikan Emosi, Penyabar Banget!
Setelah 45 tahun menyebarkan dharma atau ajaran kebaikan dan rasa kasih, Budha meninggal atau Parinibbana dalam usia 80 tahun.
Dalam setiap perayaan hari Waisak, umat Buddha akan kembali mengingat ajaran-ajaran yang telah dilakukan Sang Buddha.
Sebagaimana Budha meraih pencerahan sempurna, saat menghadapi hari atau situasi yang sulit Budha mengingatkan untuk tetap memegang kuat harapan.
Mempercayai bahwa hari atau situasi yang sulit tidak lain hanyalah babak kecil dari kisah perjalanan, bukan keseluruhan hidup.
Baca Juga: Disegani, Ini 4 Tanda Kamu adalah Orang Tidak Bisa Dibuat Main-Main
Saat menghadapi hari atau situasi sulit, memfokuskan pikiran dan energi kepada hal-hal yang bisa dikendalikan bukan sebaliknya.
Milikilah keyakinan dalam hati bahwa hari atau situasi yang buruk dan sedang terjadi, tidak berlangsung untuk selamanya.
Terkadang dalam menghadapi hari atau situasi yang sulit, yang dibutuhkan seseorang hanyalah permintaan tolong, jangan ragu dan malu untuk melakukannya.
Sebagaimana Budha ingin semua orang merasakan kebahagiaan dalam hidup, memiliki kendali atas diri sendiri adalah hal terpuji.
Jadilah pemilik atas hidup, kebahagiaan, kedamaian dan jangan berikan atau membiarkan siapapun mengambilnya secara paksa dari diri kita.
Sebab orang yang telah memiliki kebahagiaan, akan bisa membaginya kepada orang lain yang mereka sayangi.
Namun dalam proses perjalanan hidup yang setiap orang tentu berbeda, Budha juga mengajarkan manusia untuk memilih menyerah.
Menyerahlah pada alasan dan pembenaran, raih tanggung-jawab dan bersiap menghadapi rasa cemas serta takut.
Baca Juga: Tiba di Makkah, Jemaah Haji Langsung Umrah
Menyerahlah kepada kebiasan meracuni diri sendiri, sebab setiap orang akan menjadi apa yang ia lakukan secara berulang.
Menyerahlah kepada rasa takut akan kegagalan, sebab kesuksesan bukanlah final dan kegagalan tidaklah fatal.
- Demikian seperti dirangkum Ayojakarta pada Jumat 2 Juni 2023 dari akun Instagram @buddha_teachings. ***

Share this article
Menjelang perayaan Hari Raya Waisak, umat Buddha akan kembali melakukan refleksi perjalanan hidup Sang Buddha. Ada kisah Pangeran Sidharta.