AYOJAKARTA.COM - Belakangan ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kabar mengenai potensi terjadinya gempa megathrust di Indonesia.
Gempa megathrust tersebut diinformasikan mencapai kekuatan sembilan magnitudo yang berpotensi menimbulkan tsunami setinggi 34 meter.
Namun informasi tersebut bukanlah kabar burung semata, namun berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli beberapa waktu terakhir.
Dikutip AyoJakarta.com dari kanal Youtube Tv One News pada (24/1/2022), salah satu peneliti yang juga menjelaskan potensi gempa megathrust tersebut adalah Heri Andreas selaku Peneliti Geodesi ITB.
Heri Andreas menuturkan jika prediksi gempa megathrust tersebut merupakan siklus gempa 200 tahunan.
“Dari hasil penelitian, disekitar 1400an itu ada rangkaian gempa bumi dan tsunami, 200 tahun berikutnya 1600an itu juga ada catatan gempa bumi dan tsunami, 200 tahun berikutnya di 1800an ada juga rangkaian gempa bumi dan tsunami. Jadi polanya itu per 200 tahunan itu jelas,” ungkap Heri Andreas.
“Ini artinya ditahun 2000an, sekarang 2022 kita sedang berada diujung siklus pengulangan gempa-gempa besar dan tsunami,” imbuhnya.
Selain itu, Heri Andreas juga menyebutkan beberapa wilayah Indonesia yang merupakan segmen dari zona megathrust.
“Tentunya di daerah lain bisa terjadi ya tetapi kalau khusus ke segmen megathrust Jawa Sumatera, nah ini jadi sekarang yang sedang menunggu selatan Jawa Barat, Banten sampai 40 tahun ke depan,” jelas peneliti Geodesi ITB tersebut.
“Termasuk selatan Padang sudah menunggu, kemudian Parangtritis sama sedang menunggu karena ini energinya juga bisa 9 di sini,” imbuh Heri Andreas sambil menunjukkan zona megathrust melalui komputer.
Namun untuk waktu pasti kapan akan terjadi gempa tersebut, Heri Andreas menuturkan tidak ada peneliti yang dapat memastikan hal tersebut.
“Kalau bicara kapan pastinya, belum ada peneliti yang bisa menentukan sampai dengan hari apalagi jamnya itu tidak ada, tetapi dikenal siklus gempabumi dimana gempa bisa berulang,” jelas Heri.
Namun ada 2 langkah mitigasi yang bisa dilakukan untuk antisipasi atau persiapan menghadapi bencana megathrust yang berpotensi tsunami 34 meter tersebut.
“Kalau terkait gempa dan tsunami ya mitigasinya itu ada dua, ada mitigasi struktural dan non structural,” jelas Heri Andreas.
“Nah yang untuk mitigasi structural itu yang dibangun tanggul penahan tsunami ya, tapi kalau kita lihat kemampuan yang ada di Indonesia ya, ke arah sana belum karena itu biayanya sangat mahal. Akhirnya yang kita pilih mitigasi non struktural itu ya kita berupaya untuk mengedukasi masyarakat mensiapsiagakan masyarakat ya jadi ketika gempa dan tsunami datang masyarakat sudah siap,” jelas Peneliti Geodesi ITB Heri Andreas.***

Share this article
Berikut 2 mitigasi bencana sebagai upaya hadapi megathrust dan tsunami 34 meter yang disampaikan oleh peneliti Geodesi ITB, simak baik-baik.