AYOJAKARTA.COM – Belakangan ini publik seolah dibuat geger dengan drama capres dan cawapres di Indonesia.
Mulai dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang disebut untuk meloloskan Gibran Rakabuming menjadi calon wakil presiden.
Hingga keputusan bakal calon presiden Prabowo Subianto yang menggandeng Gibran Rakabuming Raka yang tidak lain merupakan putra Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Keputusan tersebut tentu saja menghebohkan publik, karena selama ini publik tahu bahwa Gibran merupakan salah satu kader PDI Perjuangan.
Belum lagi isu politik dinasti Jokowi yang menghantui deklarasi Gibran jadi cawapres Prabowo Subianto banyak dibicarakan di media sosial.
Terkait deklarasi dari Koalisi Indonesia Maju yang mengusung Gibran Rakabuming sebagai cawapres dari Prabowo Subianto membuat pengamat politik dari lembaga Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah turut buka suara.
Baca Juga: Harusnya Hari Ini, Ini Alasan Pengumuman Gibran Jadi Cawapres Prabowo Dipercepat
Dedi menilai bahwa keputusan bakal capres Prabowo Subianto yang menggandeng putra sulung dari Jokowi ini merupakan langkah yang penuh dengan risiko.
Dirinya menilai bahwa keputusan yang dilakukan ini bisa menjadi blunder yang sangat memungkinkan jika Ketua Umum Partai Gerindra menelan pil kekalahan dalam Pemilihan Presiden 2024 mendatang.
“Bisa saja bagi Prabowo keputusan ini biasa, mengingat ia adalah militer. Terbiasa dengan keberanian ambil risiko dalam memutuskan,” ungkap Dedi dikutip AyoJakarta.com dari laman Republika, Senin, 23 Oktober 2023.
“Tetapi dalam situasi politis, ini bisa sebagai blunder yang memungkinkan Prabowo telan kekalahan. Bahkan kekalahan yang lebih buruk dari 2019,” lanjutnya.
Pengamat politik ini mengatakan bahwa kekalahan yang menghantui Prabowo Subianto dalam Pilpres 2024 ini bisa terjadi karena kepercayaan dari publik mulai luntur.
Khususnya pendukung dari pemilihan umum sebelumnya, yang mana saat ini Prabowo akan dianggap melanggengkan politik dinasti dari Joko Widodo.
Bukan itu saja, Prabowo Subianto juga akan dinilai oleh publik sebagai tokoh yang tidak mengutamakan kapasitas dalam memilih pendamping (cawapres).
“Langkah Prabowo ini melainkan demi mendapatkan sokongan Jokowi yang mungkin saja ia bayangkan bisa kerahkan kekuasaan untuk menangkan Prabowo. Situasi ini bisa membuat Prabowo kehilangan kepercayaan publik,” ujar Dedi.
Lebih lanjut pengamat politik dari IPO ini mengungkapkan bahwa Ganjar Pranowo bisa memantik banyak simpati karena jadi tokoh yang terzalimi.
“Dari sisi Jokowi semantan pengkhianat dari PDIP bisa membuat Ganjar panen simpati karena berperan sebagai tokoh terzalimi. Jokowi diprediksi gagal membawa gerbong PDIP ke Prabowo,” kata dia.
Baca Juga: Jejak Karier Capres dan Cawapres: Gibran yang Termuda, Prabowo yang Paling Berpengalaman
Dedi menilai bahwa kondisi ini harus diantisipasi oleh Prabowo Subianto dengan Koalisi Indonesia Maju (KIM).
Agar sentimen dan kepercayaan publik tidak melemah, yang mana jika hal itu sampai terjadi maka Ketua Umum Partai Gerindra ini harus bersiap untuk menerima kekalahan kembali.

Share this article
Dedi menilai keputusan bakal capres Prabowo Subianto yang menggandeng Gibran Rakabuming merupakan langkah yang penuh dengan risiko.