AYOJAKARTA.COM - Penemuan empat anak yang terbaring tak bernyawa di Jagakarsa, masih menyisakan sejumlah pertanyaan di benak publik.
Kondisi mengenaskan dari empat anak yang tewas di rumah kontrakan di Jagakarsa, sempat dianggap sebagai salah satu bentuk lambannya penanganan kepolisian.
Terkait dengan kasus KDRT dan penemuan empat anak yang tewas di Jagakarsa tersebut, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan sempat memberikan klarifikasi.
Menurut AKBP Bintoro, anggapan yang menyebut bahwa polisi lamban dalam melakukan penanganan merupakan kabar tidak benar.
Sebelum peristiwa tersebut diketahui publik, kepolisian melalui Bhabinkamtibmas atas nama Aiptu Dedi telah melakukan penanganan.
Dari laporan yang diperoleh Ketua RT setempat, Aiptu Dedi bertemu langsung dengan Korban dan Pelaku KDRT.
“Selanjutnya dengan batuan Ketua RT dan Pemilik kontrakan, permasalahan KDRT diselesaikan saat itu,” jelas AKBP Bintoro.
Mengingat kondisi korban KDRT yang saat itu masih dalam kondisi sakit, kepolisian serta Ketua RT selanjutnya membawa ke rumah sakit.
Sebelum ayah dari para korban ditetapkan sebagai pelaku pembunuhan, kepolisian telah melakukan pemeriksaan terhadap 12 orang saksi.
Dari tiga buah handphone dan satu unit laptop yang menjadi alat bukti, kepolisian kemudian menetapkan Panca sebagai tersangka.
Lebih lanjut, AKBP Bintoro menjelaskan di dalam handphone tersebut terdapat bukti berupa rekaman peristiwa sebelum dan setelah kejadian.
Melalui rekaman video tersebut, AKBP Bintoro menambahkan bahwasanya pelaku juga sempat menangis usai menghabisi anak-anaknya.
“Dimana pada saat kejadian, Si Pelaku ini merekam dan sambil menangis menyampaikan bahwa, tidurlah Nak biar Ayah yang salah,” imbuh AKBP Bintoro.
Dalam pemeriksaan terhadap Panca, kepolisian juga mendapatkan keterangan terkait dengan alasan yang melatarbelakangi terjadinya tindak kekerasan dan pembunuhan.
“Karena Si Pelaku ini melihat ada konten instagram antara istri dengan laki-laki lain, sehingga yang bersangkutan merasa sakit hati,” ungkap AKBP Bintoro.
Pekan depan, kepolisian juga telah merencanakan rekonstruksi pembunuhan atas tewasnya empat orang anak di Jagakarsa.
Sehubungan dengan rencana rekonstruksi tersebut, Panca mengaku tidak menyesali perbuatannya dan menyesal karena gagal melakukan upaya bundir.
Baca Juga: Presiden Jokowi Buka Suara Soal Surat 'Pamit' Firli Bahuri Sebagai Ketua KPK: Belum Sampai Meja Saya
“Saya sangat menyesal sebenarnya, kenapa saya masih hidup,” jelas Panca saat dimintai keterangan oleh kepolisian.
Panca menambahkan, penyesalan yang dirasakan terjadi karena ia tidak bisa menemani keempat anaknya yang kini sudah tiada.
“Ternyata saya masih dikasih kehidupan dengan lima kali percobaan,” pungkas Panca dikutip Ayojakarta, Jumat 22 Desember 2023 dari Kompas TV. ***

Share this article
Panca menambahkan, penyesalan yang dirasakan terjadi karena ia tidak bisa menemani keempat anaknya yang kini sudah tiada.