AYOJAKARTA.COM – Debat capres akan kembali digelar penyelenggara pemilu pada Minggu, 7 Januari 2024 esok.
Mengusung tema seputar pertahanan, keamanan dan geopolitik serta hubungan internasional, acara debat capres akan dilangsungkan di Gelora Bung Karno, Jakarta.
Selain mengangkat tema-tema penting, debat capres juga akan membahas perihal globalisasi dan politik luar negeri sebagai sub tema.
Sebanyak 11 Panelis dari berbagai latar belakang pendidikan dan keilmuan serta perguruan tinggi, akan dilibatkan dalam ajang debat ketiga pilpres.
Sehubungan dengan adanya kritik publik yang terjadi dalam agenda debat kedua saat debat cawapres, sejumlah peraturan kembali ditetapkan.
Adanya perubahan peraturan tersebut merupakan hasil inisiasi dan kesepakatan yang dilakukan para tim sukses peserta pilpres.
Dalam ajang debat capres 7 Januari 2024 mendatang, ketiga peserta hanya akan dibekali dengan satu buah mikrofon.
Selain penggunaan mikropon tunggal, peran moderator juga akan diperluas sehingga bisa menghindari pertanyaan yang bersifat inklusif atau terbatas.
Baca Juga: Beda dengan Gibran, Prabowo Tidak Akan Pakai Istilah Asing di Debat Capres Kedua
Dengan adanya peraturan baru semacam ini, maka moderator debat diharapkan tidak sekedar berperan sebagai penjaga durasi sebagaimana sempat menuai kritik.
Di samping kedua perubahan tersebut, dalam ajang debat capres mendatang optimalisasi peran LO atau Liaison Officer juga dilakukan.
Tema debat capres yang menyinggung persoalan hubungan internasional dan geopolitik, menurut Jubir Kemenlu akan memiliki dampak langsung di masyarakat.
“Kami harap dalam debat nanti, perhatian jadi lebih besar untuk isu politik luar negeri, khususnya yang berdampak langsung ke masyarakat,” ungkap Lalu Muhammad Iqbal.
Terkait dengan tema debat yang menyoroti pertahanan dan isu-isu internasional, capres Prabowo Subianto dinilai akan mendapat keuntungan.
Sehubungan dengan adanya penilaian tersebut, Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia memberi tanggapan.
Menurut Suzie Sudarman, landasan dasar hubungan internasional berakar dari ideologis yang dianut oleh suatu bangsa.
Adanya perbedaan ideologis yang dianut suatu bangsa dengan bangsa lain, menurut Suzie bisa menjadi jembatan kerjasama atau bahkan sebaliknya.
Karena itu, sangat penting bagi seorang pemimpin untuk bisa menerjemahkan antara keinginan domestik di dalam negeri dengan situasi yang terjadi secara global.
Baca Juga: Bikin Penasaran, Ternyata Ini Alasan Prabowo Subianto Akan Impor 1,5 Juta Sapi Perah
Dengan mengelaborasi kedua permasalahan yang terjadi, baik secara domestik maupun global, cara pandang dan kepemimpinan seseorang bisa terlihat.
Untuk bisa memahami kualitas capres dalam kancah internasional dalam debat, menurut Suzie bisa dilihat dari kesadarannya pada konstitusi dalam negeri.
“Politik luar negeri Indonesia mengacu pada konstitusi, Pembukaan UUD 1945,” jelasnya dikutip Ayojakarta, Sabtu 6 Januari 2024 dari Metro TV.

Share this article
Sehubungan dengan adanya kritik publik yang terjadi dalam agenda debat kedua saat debat cawapres, sejumlah peraturan kembali ditetapkan.