AYOJAKARTA.COM – Sanggahan yang disampaikan cawapres nomor urut tiga, Mahfud MD soal metafora bebek dan Petugas Partai membuat publik berpolemik.
Dalam pertemuan dengan konstituen 5 Februari lalu, Mahfud MD menyebut pasangan capres-cawapres lain tidak ubahnya dengan Bebek yang dicengkeram lehernya.
Selain itu, Mahfud MD juga menyanggah anggapan banyak kalangan yang menyebut bahwa dirinya merupakan bagian dari Petugas Partai.
Menurut Mahfud, pasangan Ganjar-Mahfud merupakan Petugas Konstitusi yang dipilih dan diusung oleh Parpol untuk melakukan misi kenegaraan.
Sementara pasangan capres-cawapres lain hanya merupakan perpanjangan dari petugas oligarki atau golongan tertentu.
“Bukankah pimpinan partai juga sama seperti Bebek-bebek, bisa dikendalikan? tapi yang lain seperti Bebek dipegang lehernya, ini yang bukan Petugas Partai,” tegas Mahfud.
Baca Juga: Ketika Dunia Tertidur, Mereka Bangun: Inilah Kepribadian Orang yang Suka Bekerja Larut Malam
Lebih lanjut, Mahfud menegaskan bahwa paslon nomor urut tiga merupakan Petugas Konstitusi, sementara paslon lain merupakan Petugas Oligarki.
Menyikapi adanya pernyataan tersebut, Andre Rosiade yang merupakan Jubir TKN Prabowo-Gibran memberi tanggapan.
Menurut Andre, pernyataan yang disampaikan Mahfud MD merupakan bentuk kepanikan karena survei elektabilitasnya terus menurun.
Selain itu, Andre juga memastikan bahwa situasi yang terjadi di dalam Koalisi Indonesia Maju sangat guyub, kondusif dan solid.
“Mungkin Pak Mahfud ini panik, mungkin ada rasa ketakutan dan kepanikan karena melihat survei Beliau kalah, turun dan turun sehingga mulai menyerang,” jelas Andre.
Baca Juga: Rahasia Kehidupan Seseorang yang Tersirat di Garis Pergelangan Tangan
Sementara itu menurut Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia menilai, karakteristik menyerang memang ciri khas Mahfud MD.
“Kemaren agak ngerem-ngerem karena ada dalam pemerintahan, tapi takut mundur duluan, habis mundur baru nyerang balik lebih tajam,” jelas Doli.
Sehingga pernyataan Mahfud MD yang kini menuai polemik, menurut Doli bukan merupakan sebuah bentuk kesantunan.
Pernyataan Mahfud MD soal Bebek dan Oligarki juga ditanggapi oleh Triyono Lukmantoro selaku Pengamat Politik Universitas Diponegoro.
Menurut Triyono, strategi paling relevan yang bisa dilakukan Mahfud MD saat ini adalah dengan melakukan serangan secara terukur dan tidak ngawur.
Bentuk serangan tersebut, merupakan strategi dalam menghadapi stigma negatif yang selama ini tertuju kepada PDIP soal Presiden yang tidak lebih dari Petugas Partai.
Pemilihan Bebek sebagai metafora politik, menurut Triyono merupakan analogi yang sangat dekat dengan realitas politik saat ini yang menuai berbagai luapan emosi.
“Itu bisa ditujukan kepada siapapun, seakan-akan Pak Mahfud bilang bahwa dirinya merupakan sosok independen sehingga tidak mungkin didikte oligarki,” jelasnya.

Share this article
Sanggahan yang disampaikan cawapres nomor urut tiga, Mahfud MD soal metafora Bebek dan Petugas Partai membuat publik berpolemik.