AYOJAKARTA.COM -- Dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Hasanuddin, Profesor Hasrullah mengungkap makna dari pernyataan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok terkait kinerja Jokowi dan Gibran. Benarkah pengalihan isu?
Diketahui, Ahok yang merupakan mantan Gubernur DKI Jakarta sempat melontarkan kritik terkait kinerja Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) dan anaknya, Gibran Rakabuming Raka yang tidak bisa bekerja selama menjabat posisi wali kota Solo.
Menanggapi situasi ini, Hasrullah mengungkapkan, apa yang disampaikan Ahok sedianya merupakan upaya peralihan isu atas ramainya kritik dari berbagai civitas akademik kepada Jokowi.
Baca Juga: Ahok Kritik Pedas Jokowi dan Dirinya Tidak Bisa Kerja, Begini Respons Gibran
“Jadi sebenarnya apa yang disampaikan Basuki Tjahaja Purnama, melihat ini adalah salah satu kalau menurut saya ya, terakhir ini serangan terhadap pak Jokowi ini cukup keras, terutama dari kampus,” nilai Hasrullah.
Oleh sebab itu, Hasrullah menilai agar isu terkait banjirnya kritik kepada Jokowi dari berbagai civitas akademik ini tidak semakin besar, maka Ahok melakukan pernyataan kontroversial tersebut.
“Dan saya melihat ini salah satu (upaya) bagaimana isu (kritikan dari civitas akademik) itu tidak terus sampai pada makin matang (klimaks). Makanya dalam menyimak apa yang diungkapkan tadi pak Ahok itu, saya melihat ada dalam teori komunikasi namanya teori interpretasi,” ujar dosen FISIP.
Tak hanya itu, Hasrullah menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Ahok ini seperti teori interpretasi di mana bahasa yang digunakan tersebut memiliki pandangan yang beragam.
“Teori interpretasi ini ada menjelaskan keutuhan bahasa ya dalam pandangan keberagaman fungsi itu,” jelasnya.
Karenanya, menurut Dosen UNHAS itu, agar tidak terjadi reformasi jilid dua sebagai puncak kritik kepada Jokowi dari para guru besar dan civitas kampus, maka Ahok melakukan kontroversi dengan mengalihkan perhatian masyarakat.
“Mengalihkan perhatian kita, saya melihat ini kan gempuran sudah 57 universitas melakukan (kritik) terhadap pak Jokowi. Bahkan ada yang mengenakan kalau ini jalan terus bisa terjadi reformasi jilid dua,” jelas Hasrullah.
“Apa yang dilakukan Ahok ini adalah teknik mengalihkan perhatian sehingga goncangan turbulensi yang cukup keras di akhir kampanye ini akan kembali masuk, dan tidak sampai ke titik klimaksnya,” ujarnya.

Share this article
Dosen UNHAS ungkap makna dari kritik Ahok terhadap kinerja Jokowi dan Gibran, singgung pengalihan isu dan upaya meredam reformasi jilid dua.