AYOJAKARTA.COM — Aplikasi Sirekap saat ini sedang menjadi perbincangan banyak orang karena banyak keanehan pada saat melakukan rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2024.
Founder Kanal Anak Bangsa Rudi S Kamri pun ikut menyoroti keanehan pada aplikasi Sirekap tersebut.
Menurutnya, aplikasi ini justru menampilkan banyak kejanggalan yang mencurigakan.
Ia mengungkapkan bahwa terdapat keanehan mendasar dalam aplikasi Sirekap.
Meskipun diatur oleh KPU bahwa setiap TPS hanya boleh memiliki maksimum 300 Daftar Pemilih Tetap (DPT) ditambah 20 cadangan, namun aplikasi ini tidak memiliki fitur untuk mendeteksi apakah suatu TPS sudah melewati batas tersebut.
"Yang menjadi soal adalah yang katanya Sirekap super canggih dan konon kerjasama dengan China ini ada keanehan yang sangat mendasar, menurut saya aneh bin ajaib," ungkap Rudi, dikutip AyoJakarta.com dari YouTube Kanal Anak Bangsa pada Rabu, 21 Februari 2024.
Ia menjelaskan, kejanggalan semakin terlihat ketika suara yang tercatat di aplikasi Sirekap melebihi jumlah DPT yang seharusnya.
Bahkan, kata Rudi Ada TPS yang mencatat suara hingga mencapai 700 sampai 1000 seperti di Grobogan, Jawa Tengah, yang mencatat 561 ribu suara hanya dari satu TPS.
Dengan demikian, ia mempertanyakan keprofesionalan programer Sirekap yang seharusnya direkrut oleh KPU.
Ia pun menyatakan keheranannya mengapa tidak ada batasan limitasi per TPS dalam aplikasi ini.
"Ini seharusnya menjadi hal yang sederhana. Kalau sudah 300 DPT harusnya ditolak, anak SMP saja tahu," ujarnya.
Ketidaksiapan aplikasi Sirekap dalam menangani batasan jumlah suara per TPS menimbulkan pertanyaan, apakah hal ini hanya kesalahan teknis atau ada niatan lain di baliknya.
Untuk itu, ia mengkhawatirkan bahwa hal ini bisa saja menjadi alat untuk memanipulasi suara dan menipu rakyat, karena tidak masuk akal dalam logika sederhana.
"Pertanyaannya ini hanya kebodohan semata atau kesengajaan. Rakyat sudah curiga jangan jangan ini sekedar alat untuk membohongi rakyat, memanipulasi suara, karena sangat tidak masuk akal dalam logika sederhana sekalipun," katanya.
Dengan banyaknya kejanggalan yang terungkap, ia menuturkan bahwa KPU terlihat tidak profesional dan tidak layak dalam menggunakan aplikasi Sirekap.
Ia juga mengemukakan kemungkinan bahwa komisioner KPU mungkin tidak memiliki pemahaman yang memadai dalam bidang IT, sehingga kekurangan-kekurangan dalam aplikasi ini terjadi tanpa terdeteksi.
"Jadi saya harus mengatakan KPU ini sangat tidak profesional dan sangat tidak layak. Mungkin komisioner KPU tidak ada yang mengerti IT sehingga jebol seperti ini," pungkasnya.***

Share this article
Founder Kanal Anak Bangsa Rudi S Kamri ikut menyoroti keanehan pada aplikasi Sirekap milik KPU dalam Pemilu 2024.