AYOJAKARTA.COM - Baru-baru ini potensi gempa megathrust di Indonesia yang bisa menimbulkan goncangan hingga M 9 mulai ramai diperbincangkan.
Potensi gempa megathrust tersebut khususnya akan dialami di wilayah Pulau Jawa dan Sumatera Tengah yakni Zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Tentunya potensi gempa dahsyat ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat khususnya yang berada dalam wilayah zona Megathrust tersebut.
Menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono menyebut bahwa isu soal potensi gempa megathrust ini bukanlah hal yang baru.
Melainkan ini sudah menjadi wacana pembahasan sejak terjadinya gempa tsunami di Aceh tahun 2004 lalu.
Hal itu disampaikan Daryono melalui cuitan di akun X pribadinya @DaryonoBMKG, sebagaimana dikutip Ayojakarta.com pada 17 Agustus 2024.
"Kekhawatiran ilmuwan Jepang thd Megathrust Nankai sama persis dirasakan oleh ilmuwan Indonesia, khususnya terhadap Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut," tulis Daryono dikutip pada Sabtu (17/8/2024).
Daryono menambahkan bahwa rilis pernyataan terhadap dia potensi ini dikatakan hanya 'tinggal menunggu waktu' karena sudah ratusan tahun berlalu namun belum terjadi gempa yang besar.
Pada penjelasan yang juga disampaikan oleh Daryono, potensi gempa megathrust di Selat Sunda dapat menimbulkan kekuatan magnitudo hingga 8,7
Sedangkan pada zona Mentawai-Siberut dapat menimbulkan potensi gempa hingga 8,9 magnitudo.
Dalam kacamata 'seismic gap', Selat Sunda sendiri saat ini usianya sudah mencapai 267 tahun, sedangkan segmen Mentawai-Siberut usianya sudah mencapai 227 tahun.
Dikatakan Daryono bahwa saat ini segmen-segmen gempa lain sudah rilis, dan kini hanya tinggal menunggu kedua segmen tersebut yang belum muncul.
Namun dengan tegas Daryono menyampaikan bahwa apa yang ia sampaikan soal gempa megathrust ini semata-mata hanya sebagai pengingat potensi bukan untuk menakut-nakuti masyarakat.
Ia pun menegaskan terkait penjelasan soal 'menunggu waktu' datangnya gempa megathrust bukan berarti bahwa gempa tersebut akan segera tiba dalam waktu dekat.
Hanya saja potensi tersebut pasti ada dan akan terjadi namun entah berapa lama lagi waktunya.
Harapannya dengan kabar yang beredar saat ini bukan menambah ketakutan pada masyarakat melainkan kewaspadaan soal potensi-potensi yang akan terjadi.
Lalu benarkah Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua jika terjadi gempa megathrust?
Berkaitan dengan isu bahwa Pulau Jawa akan terbelah dua apabila terjadi gempa megathrust, Ahli Geodesi dari Institut Teknologi Bandung, Harry Andreas menyebut bahwa pernyataan tersebut tidak benar.
Baca Juga: Fix! KPM Bansos PKH BPNT dari PT Pos Diganti ke Kartu KKS Wajib Membawa Berkas Ini
Harry dengan tegas membantah bahwa gempa megathrust dapat membuat patahan yang menyebabkan Pulau Jawa akhirnya terbelah menjadi dua.
"Tidak akan (Pulau Jawa terbelah dua)," kata Harry.
Selain itu dikatakan Harry, apabila memang benar akan terjadi gempa megathrust hingga skala 9 magnitudo, maka yang ditimbulkan hanya akan menggoyang dan menggetarkan seisi Pulau Jawa.
Selain itu hanya akan terjadi kerusakan infrasturuktur dan menyebabkan terjadinya longsor di beberapa titik wilayah.
Terparah kondisi yang ditimbulkan adalah potensi adanya tsunami yang akan menghantam Pulau Jawa sekitarnya akibat terjadi gempa dahsyat di laut tersebut.***

Share this article
Benarkah Pulau Jawa bisa terbelah akibat imbas dari gempat megathrust? Begini penjelasan lengkap dari BMKG.