AYOJAKARTA.COM – Isu gempa megathrust belakangan menjadi perbincangan masyarakat Tanah Air.
Pasalnya, gempa megathrust dikatakan hanya tinggal menunggu waktu tetapi tak bisa diprediksi kapan akan terjadi.
Tentu cepat atau lambat gempa megathrust akan menjadi ancaman yang harus dipersiapkan di Indonesia.
Banyak yang mempertanyakan sosialisasi seperti apa yang harus diberikan kepada masyarakat agar bisa mengurangi rasa panik dan ketakutan akan gempa megathrust.
Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Amien Widodo mengatakan bahwa masyarakat tak perlu panik dengan gempa megathrust.
Menurutnya, masyarakat harus fokus pada langkah mitigasi dan sosialisasi yang merata.
Amien Widodo menghimbau masyarakat tak panik jika terjadi gempa dan harus melindungi diri.
“Jadi, kalau gempa tenang. Kemudian, kalau kita dekat dengan pintu segera lari keluar pintu. Tapi kalau kita jauh dari pintu kita harus menunduk di bawah meja, berpegangan kaki meja untuk melindungi kepala. Setelah gempa berhenti baru keluar,” kata Amien Widodo dikutip ayojakarta.com dari YouTube Kompas TV pada Rabu (11/9/2024).
Amien melihat bahwa masyarakat Indonesia memang belum terbiasa melakukan mitigasi bencana.
Namun, dalam upaya mengurangi risiko bencana akibat gempa megathrust, hal tersebut harus dilakukan.
Amien mencontohkan bahwa Jepang sudah mulai memberikan pelatihan mitigasi bencana sejak sekolah dasar.
“Untuk biasa melakukan itu kan harus latihan terus. Jadi, Jepang itu SD sudah dilatih begitu. Apalagi gempa itu juga bisa memicu kebakaran, berarti kan latihannya double. Harus keluar dan juga harus berusaha mematikan kompor atau listrik. Jadi latihannya tambah. Itu kalau nggak dilatih nanti lupa, jadi harus latihan,” ujarnya.
Baca Juga: 5 Hal yang Jangan Dilakukan saat Terjadi Gempa Bumi Megathrust, Termasuk Berada di Dekat Benda Ini
Amien menuturkan bahwa masyarakat harus bisa beradaptasi karena Indonesia berada di wilayah gempa sama seperti Jepang.
Namun karena masyarakat Jepang sudah diberikan pemahaman tentang mitigasi bencana jumlah korban jiwa tak terlalu banyak.
“Kita harus beradaptasi karena takdir kita ada di daerah gempa sama seperti Jepang. Jadi, Jepang sudah belajar melatih diri, korbannya kan jauh berbeda dengan kita. Dia tsunami tahun 2011, gempanya 9 magnitudo, tsunaminya sangat besar, korbannya dibawah 15 ribu, kita kan 250 ribu. Adaptasi ini adalah pilihan, kalau dibolehkan harus mestinya. Tapi karena kita belum terbiasa,” tutupnya.***
Share this article
Begini kata Pakar Geologi ITS terkait langkah mitigasi yang harus disiapkan untuk menghadapi gempa megathrust.