AYOJAKARTA.COM – Badan Pusat Statistik mengungkap angka kelahiran dan pernikahan di Indonesia atau TFR terus mengalami penurunan.
Berdasarkan hasil data statistik yang diterbitkan Badan Pusat Statistik, Total Fertility Rate atau TFR di Indonesia terus mengalami penurunan sejak 50 tahun terakhir.
Menurut Badan Pusat Statistik, TFR Indonesia pada tahun 1971 masih berada pada rentang 5,61 atau seorang perempuan masing melahirkan lima hingga enam anak selama masa subur.
Secara definitif, TFR atau Total Fertility Rate merupakan jumlah rata-rata anak yang dilahirkan hidup oleh seorang perempuan selama masa reproduksi.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Angka Harapan Hidup Pria Tertinggi di Indonesia, Jakarta Bukan Nomor 1
Selain itu, BPS juga mendapati jumlah angka TFR tersebut terus mengalami penurunan sehingga pada 2020 telah berada pada rentang 2,81 atau mencapai rekor terendah.
Penurunan angka statistik kelahiran perempuan selama masa subur menurut Hasto Wardoyo selaku Kepala BKKBN akibat meningkatnya penggunaan alat kontrasepsi.
“Jadi hari ini rata-rata perempuan melahirkan 2,8 sedangkan dulu pada tahun 1970-an rata-rata perempuan melahirkan itu sekitar lima sampai enam,” ungkap Hasto Wardoyo dikutip ayojakart.com dari YouTube METRO TV, Selasa (29/10/2024).
Adanya penurunan tingkat kelahiran yang cukup signifikan di rentang 1970-2024 juga ditengarai dapat merupakan indikasi terjadinya resesi seks.
Baca Juga: WOW Luar Biasa! Data BPS 5,8 Persen PNS di DKI Jakarta Didominasi oleh Perempuan Loh, Lelaki Berapa?
Sehubungan dengan data BPS akan adanya potensi kekhawatiran terhadap fenomena resesi seksual, Devie Rahmawati selaku Pemerhati Sosial memberi tanggapan.
Selain penggunaan alat kontrasepsi, Devie menilai perkembangan teknologi turut menyumbang kontribusi yang tak sedikit terhadap rendahnya TFR di Indonesia.
Berbagai fitur dan permainan menarik yang ditawarkan derasnya perkembangan era digital serta media sosial membuat terjadinya pergeseran kecenderungan.
Kemampuan dalam membangun hubungan sosial yang relatif berkurang karena tingginya angka kesepian, menurut Devie berpengaruh pada perspektif generasi muda.
Baca Juga: Daftar Jumlah Tempat Ibadah Menurut Wilayah yang Ada di DKI Jakarta Berdasarkan Data BPS Terbaru
“Mereka lebih memilih bermain gadget, ketidakmampuan membangun hubungan sosial dan romantis mendorong mereka tidak memiliki pasangan betulan,” ungkapnya.
Perkembangan teknologi yang demikian masif, menurut Devie membawa dampak generasi muda lebih tertarik pada tingkat permukaan dibanding kedalaman suatu hubungan.
Kemudahan yang ditawarkan teknologi dalam menghadirkan pertemanan atau hubungan, menurut Devie menjadi perkara yang wajib diwaspadai.
Baca Juga: Tingkat Pengangguran di Jakarta Menurut Data BPS Berdasarkan Wilayah, Paling Tinggi Bukan di Jakbar
Pola pikir samai perilaku untuk bebas dari memiliki anak atau Childfree bagi pasangan, menurut Devie merupakan hal yang patut diwaspadai.
Tsunami informasi tentang nilai suatu hubungan dalam pernikahan dan keluarga serta kondisi ekonomi dunia, menurut Devie membuat generasi muda ini akhirnya kebingungan.
“Mereka berpikir ulang untuk memiliki pasangan resmi, menikah dan punya anak, ini yang menjadi problem utamanya,” pungkas Devie.***
Share this article
Benarkah Indonesia terancam resesi? BPS ungkap tingkat pernikahan dan kelahiran terus menurun dari tahun ke tahun.