AYOJAKARTA.COM – Baru-baru ini, mantan presiden kedua Indonesia, Soeharto diusulkan masuk ke dalam jejeran Pahlawan Nasional.
Usulan Soeharto menjadi pahlawan nasional Indonesia mendapat respon baik dari orang istana.
Istana menilai usulan Soeharto menjadi Pahlawan Nasional adalah hal yang wajar dan tidak bermasalah.
Juru Bicara Istana, Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa mantan-mantan presiden memang sudah sewajarnya mendapatkan penghormatan dari bangsa dan negara, termasuk gelar pahlawan nasional.
“Itu sudah hal sewajarnya,” ungkapnya, yang dikutip dari kanal YouTube tvOneNews, Selasa, 22 April 2025.
Ia juga mengimbau agar publik tidak hanya menyoroti kekurangan Soeharto, tetapi juga melihat prestasi dan jasa yang telah diberikan selama masa kepemimpinannya.
Adapun alasan utama pengusulan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional adalah pengakuan atas peran besar dan jasanya dalam perjuangan kemerdekaan serta pembangunan bangsa Indonesia.
Soeharto dianggap memenuhi kriteria sebagai pahlawan nasional berdasarkan kontribusi militernya, seperti keterlibatan dalam Serangan Umum Maret 1949 yang merebut Yogyakarta dari penjajahan, serta perannya sebagai Panglima Komando Mandala dalam operasi pembebasan Irian Barat pada 1962.
Selain itu, pengusulan ini juga didorong oleh semangat rekonsiliasi nasional dan menjaga persatuan bangsa, sebagaimana disampaikan oleh tokoh-tokoh politik yang menganggap mantan presiden layak mendapatkan penghargaan atas jasa-jasa mereka dalam sejarah bangsa
Proses pengusulan Soeharto sebagai pahlawan nasional sendiri telah melalui mekanisme berjenjang mulai dari usulan masyarakat, bupati, wali kota, gubernur, hingga ke Kementerian Sosial yang membentuk tim peneliti dan pengkaji gelar pahlawan nasional.
Tim ini terdiri dari akademisi, sejarawan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat yang membahas usulan tersebut secara mendalam sebelum dikirim ke Dewan Gelar Pahlawan Nasional.
Meski demikian, usulan ini juga menimbulkan pro dan kontra di masyarakat mengingat kontroversi terkait masa pemerintahan Soeharto, terutama soal pelanggaran hak asasi manusia dan tuduhan korupsi.
Namun, Istana menegaskan bahwa penghormatan terhadap mantan presiden harus dilihat secara menyeluruh, termasuk kontribusi dan prestasi yang telah dicapai.***

Share this article
Baru-baru ini, mantan presiden kedua Indonesia, Soeharto diusulkan masuk ke dalam jejeran pahlawan Nasional.