AYOJAKARTA.COM - Program pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah melalui MBG belakangan sudah jarang dibahas.
Menelisik kemunculan MBG sejak awal 2025 upaya ini terus dikecam karena sejumlah kasus keracunan di berbagai daerah.
Setelah sorotan awal, belakangan media jarang menyorot berita keracunan. Apakah artinya kasus sudah berhenti atau hanya tidak dilaporkan?
Baca Juga: Fantastis! Kejagung Angkut Uang Rp11,8 Triliun, 5 Perusahaan Besar Terseret Kasus Korupsi CPO
Sejak Prabowo dilantik jadi presiden program MBG ini mulai dilaksanakan, media nasional pun melaporkan berbagai polemik diberbagai daerah.
Evaluasi SOP dan pengawasan diperketat
Respons BGN dan Istana cukup cepat. Penyebab bahkan kabarnya DPR sampai turun tangan mendorong BPOM dan polisi ikut mengawasi pelaksanaan MBG agar mutu makanan lebih terjamin.
Kasus lainnya ditemukan sayur basah dan basi saat inspeksi rutin, meski belum sampai disajikan. Kini terkait MBG seolah sepi pemberitaan, apakah Ada kemungkinan jumlah kasus kecil tidak diliput?
Beberapa isu di media sosial pun kini mulai sepi berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Banyak pihak sekolah yang berharap MBG harus lebih terkontrol dan ada supervisi langsung dari vendor.
Mengenai hal ini tentunya bagian Vendor MBG harus mulai menerapkan SOP memasak, penyimpanan, dan distribusi lebih ketat.
BPOM, Dinkes, dan tim inspeksi perlu dikerahkan untuk mencegah makanan tidak layak dikonsumsi. Program MBG perlu terus diperhatikan agar bebas risiko terutama kasus keracunan ringan yang masih sering terjadi.
Evaluasi SOP dan peningkatan pengawasan juga harus terus ditingkatkan. Agar Minimnya kasus-kasus yang tidak diinginkan terjadi. ***
Baca Juga: Tok! 4 Pulau Masuk ke Wilayah Aceh, Begini Tanggapan dari Gubernur Sumut Bobby Nasution

Share this article
Program MBG sempat ramai dibahas karena kasus keracunan, kini sepi pemberitaan. Evaluasi SOP & pengawasan tetap harus ditingkatkan.