AYOJAKARTA.COM – Dalam penanggalan Jawa, istilah Syura alias Suro atau Muharam berdasarkan kalender Hijriah; merujuk pada satu makna yakni nama bulan.
Sebagaimana Syura atau Suro menurut penanggalan Jawa, bulan Muharram menurut kalender Hijriah juga merupakan awal pergantian tahun.
Meski istilah Muharram dan Syura atau Suro sama-sama bermakna awal tahun, masyarakat Jawa memiliki pandangan tersendiri tentang esensi pergantian siklus tahunan ini.
Pada setiap bulan Suro, masyarakat Jawa akan menghindari berbagai jenis kegiatan yang dinilai sebagai bentuk suka-cita atau hanya berorientasi pada aspek dunia materi.
Dianggap menjadi salah satu momen perenungan hidup, oleh sebagian kalangan bulan Syura bahkan sering juga diberikan label sebagai Bulan Penuh Kesialan.
Menurut KH Ahmad Muwafiq, kebiasaan masyarakat Jawa menghindari kegiatan yang terbilang menyenangkan di bulan Syura atau Muharram bukan datang tanpa alasan.
Salah satu penyebab yang mendasari sikap tersebut, menurutnya datang karena kesadaran akan peristiwa bersejarah dan sangat menyedihkan di masa lalu.
Baca Juga: Status Cek Bansos Tiba-Tiba Tidak Layak? Ini Alasannya dan Cara Lapor Bansos Salah Sasaran
Adapun yang membuat masyarakat Nusantara cenderung menghindari kegiatan bercorak pesta-pora adalah peristiwa tewasnya Sayyid Hussein bin Ali akibat dipenggal.
Dalam banyak riwayat, Hussein kecil sempat merasa cemburu kepada Sayyid Hassan kakaknya yang lebih sering dicium di bagian bibir oleh Kakeknya.
Mendengar kegelisahan yang dialami putranya, Fatimah Az Zahra mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk mendapat penjelasan.
Dengan sedih Nabi Muhammad SAW kemudian memberi alasan yang membuatnya mencium bagian Bibir dan Leher dari kedua cucu kesayangannya.
Baca Juga: Review iQOO Neo 10: Performa Gaming Monster, PUBG dan MLBB 90-120 FPS dan Fast Charging 120 W
Mengacu pada sejumlah riwayat, alasan Nabi mencium bibir Hassan di bagian bibir adalah karena sudah lebih dulu mengetahui penyebab kesyahidan cucunya.
Akibat perebutan kekuasaan pasca meninggalnya Ali Bin Abi Thalib sebagai Khalifah terakhir, Hassan memilih untuk menyingkir demi menghindari konflik dengan Muawiyah.
Usai kembali dari pengasingan, Hassan bin Ali yang ingin menagih janji kepemimpinan dari Muawiyah justru tewas setelah diracun oleh istrinya sendiri.
Diriwayatkan oleh Al Hamid Al Husaini, sebagian kalangan menyebut alasan Jadah binti Ali Asad meracuni suaminya adalah uang senilai 100,000 dinar oleh kelompok Muawiyah.
Baca Juga: Review Tecno Pova 7: Baterai Jumbo 7000 mAh, Kamera 108 MP, tapi Ada Penurunan Layar dari Pova 6?
Adapun alasan Nabi Muhammad SAW mencium bagian Leher Hussein, setelah sempat mengalami pingsan saat akan bercerita kepada Fatimah adalah karena dipenggal.
Dalam peristiwa Karbala yang terjadi pada 10 Muharram atau Hari Asyura, Hussein bin Ali tewas setelah kepalanya dipenggal oleh pasukan Yazid.
Menurut KH Ahmad Muwafiq, alasan masyarakat Jawa lebih menghindari acara pesta pora di bulan Syura atau Suro adalah karena menghargai perasaan Nabi Muhammad SAW. ***

Share this article
Bulan Suro/Muharram dipandang sakral oleh masyarakat Jawa, dihindari untuk pesta karena mengenang tragedi wafatnya Hussein bin Ali.