AYOJAKARTA.COM – Penugasan Khusus yang dimandatkan Presiden Prabowo Subianto ke Gibran Rakabuming selaku Wapres ke Papua, menuai beragam pandangan.
Digadang-gadang sebagai bentuk kekompakan, tidak sedikit kalangan masyarakat yang menganggap penugasan Gibran Rakabuming ke Papua adalah pembuangan dengan sopan.
Disparitas emosional dan politik antara Presiden Prabowo dengan Wapres Gibran Rakabuming, juga dinilai sebagai upaya memperkecil pengaruh Joko Widodo di kabinet.
Baca Juga: Cilacap-Kebumen Sudah Terima! Bansos IPKP Nontunai Mulai Disalurkan, Siap-Siap BLT Rp300 Ribu
Sehubungan dengan munculnya polemik mengenai penugasan Gibran, Ray Rangkuti yang merupakan Direktur Eksekutif Lingkar Madani sempat memberikan perspektif.
Disampaikan saat menjadi narasumber di sebuah siniar, Ray melihat penugasan Gibran bukan hanya sesuatu yang mengundang polemik namun juga fenomena menarik.
Selain karena dapat diterjemahkan sebagai bentuk persinggungan politik, penugasan Wapres Gibran ke Papua juga mengandung perspektif yang multi spekulatif.
Dengan jam terbang politik yang terbilang masih relatif terbatas, Ray melihat penugasan Gibran merupakan peluang besar untuk karir politiknya di masa depan.
Baca Juga: IP64 dan Bypass Charging! Tecno Spark 40 Pro Plus, HP Fitur Premium untuk Multitasking dan Gaming
Namun demikian, Ray tidak menampik bahwa penugasan Gibran ke Papua juga dapat diterjemahkan sebagai cara untuk menetapkan batasan kekuasaan.
Adanya upaya memperkecil peran Gibran sebagai Wapres, menurut Ray dapat dilihat dari aglomerasi pada sejumlah wilayah dengan julukan paling strategis di Indonesia.
“Kalau ternyata itu tidak diemban ke Gibran, artinya bacaan saya adalah ada semacam pengkotakan, dan Gibran secara politik masuk ke kotak,” ujar Ray.
Istilah Penugasan Khusus yang disampaikan oleh Menko Yusril Ihza Mahendra, menurut Ray merupakan teka-teki politik yang perlu dibuktikan secara langsung oleh Gibran.
Baca Juga: Infinix Hot 60 Pro Plus: Bocoran Spesifikasi HP Tipis 5,96 mm dengan Layar 144Hz dan Kamera 50 MP
Salah satu penyebab penugasan Gibran ke Papua terus menjadi polemik publik, menurut Ray adalah karena usia Gibran di dunia politik yang masih cukup potensial.
Sebagai Wapres, Gibran menurut Ray juga melakukan perhitungan-perhitungan secara politis sehingga penugasan ke Papua dapat memiliki makna ganda.
Sebagai seorang politisi, Gibran Rakabuming menurut Ray harus senantiasa melakukan berbagai perhitungan demi karirnya di masa mendatang.
“Penugasan Khusus, itu bukan tugas yang sudah jelas amanahnya, tapi kalimat yang menimbulkan spekulasi seolah-olah Gibran ini dibuang,” imbuhnya.
Baca Juga: Murah Meriah! Modal Rp50 Ribu Kini Bisa Explore Pulau Seribu Difasilitasi Pemprov DKI Jakarta
Mengacu pada amanah yang tertuang dalam Undang-Undang, Ray melihat penyebab penugasan Gibran ke Papua menjadi polemik adalah akibat pemilihan diksi.
Istilah Penugasan Khusus yang digunakan Menko, oleh berbagai kalangan menjadi sebuah celah untuk memasukkan gagasan dan perspektif hingga menyangkut aspek politik.
“Itu kalimat yang membuat orang jadi bertanya-tanya, apakah ini artinya dibuang?” pungkas Ray dikutip Ayojakarta dari Abraham Samad Speak Up. ***
Share this article
Penugasan Gibran ke Papua menuai polemik, dinilai peluang politik sekaligus pembatasan kekuasaan, memicu spekulasi "pembuangan halus".