AYOJAKARTA.COM – Diperkirakan tahun 2023 suku bunga USD akan mencapai 4% hingga 5%. Dengan suku bunga setinggi ini tentu akan mengakibatkan resesi ekonomi USA.
Dampak yang akan diterima jika suku bunga USD naik hingga 5% antara lain adalah simpanan deposito dalam bentuk dollar akan lebih menguntungkan.
Begitu juga dengan reksadana, akan semakin ramai diminati. Tapi pastinya rupiah akan makin melemah dan harga emas akan mengalami penurunan drastis.
Dilansir AyoJakarta.com dari Twitter @Strategi_Bisnis, alasan kenapa suku bunga USD bisa mengalami kenaikan hingga mencapai 5% adalah karena Amerika sedang mengalami inflasi yang cukup tinggi.
Ini adalah inflasi tertinggi yang Amerika alami selama 40 tahun. Angka inflasi yang sudah menyentuh angka 8% ini sangat berbahaya untuk perekonomian USA.
Terdapat cara menurunkan inflasi ketika laju inflasi tinggi. Yaitu dengan cara mendinginkan mesin ekonomi melalui kenaikkan suku bunga.
Tapi ternyata ini tidak menyelesaikan masalah. Akan timbul masalah baru yang berakibat fatal. Ekonomi USA akan anjlok dan terjadi resesi.
Baca Juga: Ingin Raih Kebahagiaan Dunia dan Akhirat? Lakukan 4 Ijazah Mbah Moen Ini
Kemudian akan berdampak pada jumlah pengangguran yang meningkat. Ini adalah pilihan yang dilematis bagi Bank Central Amerika/Federal Reserve (FED), tapi keputusan tetap harus diambil.
Pada awalnya FED berencana menaikkan suku bunga hingga 4,5%. Namun menurut pendapat ahli ekonomi yaitu Lary Summer, angka tersebut belum cukup untuk menjinakkan inflasi yang sudah sangat tinggi.
Setidaknya butuh menaikkan suku bunga hingga 5% untuk menekan inflasi tinggi yang sudah terjadi. Tingginya inflasi Amerika disebabkan oleh beberapa faktor yang berkesinambungan.
Diantaranya adalah adanya kebijakan moneter FED yang terlalu longgar di tahun 2020-2021. Kebijakan ini bisa diibaratkan bahwa FED memberikan free money kepada pasar.
Baca Juga: Pendaftaran PPPK Diperpanjang, Disusul Perubahan Aturan Materai
Faktor yang kedua disebabkan oleh pandemi. Pemerintahan Biden telah menggelontorkan ribuan triliun untuk stimulus pada saat pandemi.
Pandemi juga menyebabkan adanya peristiwa tak terencana yang terjadi dalam pemasokan atau yang disebut juga dengan supply chain disruption.
Ada juga pengaruh karena adanya invasi Russia yang menyebabkan harga minyak dunia naik.
Menurut Lary Summer, ada kesalahan fatal yang dilakukan FED. FED hanya menganggap potensi inflasi yang akan terjadi hanya kecil dan sementara.
Anggapan ini membuat FED terlambat menangani inflasi yang terus-menerus naik hingga akhirnya meroket di tahun 2022.
FED baru menyadari ketika infalsi sudah tidak terkendali. Setelah menyadari inflasi yang terjadi sudah sangat tinggi, FED segera menaikkan suku bunga secara agresif.
Keterlambatan FED menangani inflasi tidak hanya berpengaruh terhadap ekonomi Amerika saja tetapi juga kepada ekonomi dunia.
Semua mata uang di negara lain akan mengalami kolaps melawan USD. Indeks pasar saham akan hancur, harga bitcoin akan anjlok, cost of capital akan terus naik secara signifikan.
Dan yang sudah dipastikan terjadi adalah resesi ekonomi global.***

Share this article
alasan kenapa suku bunga USD bisa mengalami kenaikan hingga mencapai 5% adalah karena Amerika sedang mengalami inflasi yang cukup tinggi.