BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Penyebaran wabah virus corona yang belum juga surut di beberapa wilayah Indonesia, membuat pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus mengambil keputusan dan menyiapkan skenario perpanjangan kegiatan sekolah online.
Tak bisa dipungkiri, masa karantina yang terlampau cukup lama ini membuat sebagian orang dewasa merasa jenuh, begitu pula dengan yang dirasakan oleh anak-anak.
Masa karantina yang cukup panjang bisa menjadi pemicu stres pada anak, terutama anak-anak dengan rentang pendidikan dari Paud hingga SD kelas 4.
Kondisi stres tersebut dipicu oleh ruang gerak yang terbatas serta tertahannya aktivitas fisik seperti bermain di luar rumah sebagai sarana mereka untuk melepas rasa gelisah dan tidak nyaman.
AYO BACA : Tips Membuat Anak Tak Bosan saat Belajar di Rumah
“Sementara kan ketika anak-anak main, aktivitas fisik, itu sebenarnya memberikan rasa suka cita buat mereka, menimbulkan rasa gembira. Rasa gembira itu yang kemudian bisa membuat anak-anak melepaskan rasa gak nyaman, kegelisahan atau stres karena apa pun. Tapi karena kondisi ini mungkin itu tidak bisa didapatkan oleh mereka.” kata Psikolog dan Praktisi Brainspotting Pamela Anggia Dewi, MPsi kepada Ayobandung.com, jaringan AyoMedia, Rabu (29/4/2020).
Pamela menuturkan, karantina yang dijalani juga membuat interaksi sosial anak menjadi terbatas. Padahal, ungkapnya, interaksi fisik antar anak sangatlah penting untuk mengasah kepekaan dan kedewasaan mereka sejak usia dini.
“Sementara si anak TK sampai SD saat ini adalah waktu si anak-anak bermain, dan anak SMP SMA pun mereka perlu untuk sosialisasi dengan teman-teman mereka tapi sekarang susah. Ketemu teman lewat vido call sama ketemu langsung interaksinya pasti akan beda. Saya punya satu klien yang udah mengeluhkan ini, satu anak SMA, satu lagi anak SD,” tuturnya.
Kemandirian yang secara alami telah dibangun oleh anak pun bisa berantakan karena masa karantina yang berkepanjangan. Selama ini, kata dia, anak-anak sudah terbiasa dengan rutinitas harian mereka, mulai dari sekolah sampai aktivitas di luar sekolah seperti les dan bermain.
AYO BACA : Imunisasi Anak Harus Diatur Khusus Selama Pandemi, Ini Saran IDAI
Perubahan rutinitas secara mendadak bisa memicu terganggunya perilaku mandiri pada anak, karena anak harus mulai beradaptasi dengan kondisi berbeda.
“Mereka bisa mengatur diri mereka sendiri, mereka bisa belajar mengatur energi waktu itu. Nah dengan di rumah, mungkin gak segampang itu buat mereka dan juga buat orang tuanya. Jadi bisa jadi rutinitas dan kemandirian yang tadinya sudah tebangun bisa jadi ada potensi bisa jadi berantakan lagi memang,” ungkap Pamela.
Pamela pun meminta para orang tua untuk bersiap apabila ke depannya kegiatan sekolah sudah mulai dijalankan kembali. Sebab, ada kemungkinan di awal anak akan enggan untuk bersekolah, lantaran sudah terlalu lama melakukan aktivitas di rumah.
“Karena terlalu lama mereka di rumah, bisa jadi begitu masuk sekolah mereka butuh penyesuaian lagi. Walaupun mereka udah kenal temen-temennya, tapi jadi kayak butuh penyesuaian lagi untuk ritme sekolah. Apa lagi anak-anak yang lebih kecil, yang baru aja dilepas gitu, kan kebayang ya baru masuk paud, TK kecil baru berapa bulan mulai mandiri eh udah karantina lagi, udah gak sekolah lagi dan ini panjang,” jelasnya.
Terakhir, kecanduan gadget. Apabila tidak diawasi dengan ketat, terangnya, akan ada kemungkinan penggunaan gadget pada anak menjadi semakin tinggi dan mengakibatkan kecanduan.
Kecanduan gadget, bisa mengurangi rasa inisiatif dan keaktifan pada anak yang selama ini telah dibangun dengan bersekolah dan berkegiatan di luar rumah.
“Lalu dengan karantina di rumah juga kalau misalnya ada banyak papran gadget, jadi terus fokusnya ke gadget, itu berpengaruh juga untuk keseharian mereka nantinya,” terang Pamela. (Vina Elvira)
AYO BACA : Cara Mengurangi Gawai pada Anak saat Di Rumah Aja

Share this article
Masa karantina yang cukup panjang bisa menjadi pemicu stres pada anak, terutama anak-anak dengan rentang pendidikan dari Paud hingga SD kelas 4.