JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Perbanyak ruang ventilasi di rumah, agar udara segar masuk dan tidak terlalu lembab di dalam rumah. Pasalnya, sebuah penelitian baru menemukan adanya konsentrasi yang tinggi virus corona dalam ruang yang pengap, serta ruang dengan manusia yang bergerombol.
Para ilmuwan di Wuhan, China, telah menganalisis sampel udara dari berbagai bagian di dua rumah sakit. Hasil menunjukkan bahwa virus tidak terdeteksi kecuali di daerah dengan manusia yang berjubel.
Para ahli menemukan partikel virus mengambang di udara toilet rumah sakit yang memiliki sedikit ventilasi udara. Konsentrasi virus yang sangat tinggi, juga ditemukan di ruangan-ruangan di mana petugas medis mengenakan dan melepaskan alat pelindung diri (APD).
Tak hanya itu, ilmuwan menyebutkan bahwa virus-virus yang menempel di pakaian akan kembali ke udara ketika pakaian, masker, atau sarung tangan dilepas.
Para ilmuwan mengatakan penemuan tersebut menyoroti pentingnya ventilasi udara, membatasi keramaian atau kerumunan di suatu ruangan, dan disinfeksi yang tepat.
AYO BACA : Mayoritas Anak Positif COVID-19 Bergejala Ringan dan Sembuh dalam 2 Minggu
Penelitian ini merujuk pada salah satu kasus infeksi virus yang dialami oleh seorang perempuan berusia 52 tahun, duduk di kursi di sebuah gereja yang telah diduduki sebelumnya oleh dua orang wisatawan yang telah terinfeksi tanpa gejala.
Kasus tersebut memunculkan perdebatan apakah partikel virus dapat bertahan hidup di udara, untuk menginfeksi orang yang menghirupnya dalam beberapa jam kemudian.
Dalam penelitian baru yang dipimpin oleh para ilmuwan di Universitas Wuhan menunjukkan bahwa hal itu mungkin terjadi jika ruangan tidak memiliki ventilasi udara yang layak.
Ini mengungkapkan bahwa penyakit yang sangat menular tidak hanya menyebar melalui tetesan dalam batuk dan bersin.
Ke Lan, seorang profesor dan direktur State Key Laboratory of Virology dan timnya, mengatur perangkap aerosol di dalam dan sekitar area di dua rumah sakit. Para ahli tidak mendeteksi adanya virus di koridor bangsal dan kamar pasien.
AYO BACA : Virus Corona Sudah Bermutasi Jadi 30 Jenis
Tetapi virus ditemukan di toilet dan dua daerah yang dilewati banyak orang, termasuk ruang tertutup di dekat salah satu rumah sakit.
"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ventilasi udara, ruang terbuka, sanitasi pakaian pelindung, dan penggunaan disinfeksi yang tepat di ruangan sesak dan toilet dapat secara efektif membatasi konsentrasi RNA virus Corona dalam aerosol," tulis para ilmuwan dalam penelitian tersebut, seperti dikutip laman Daily Mail, Selasa (28/4/2020).
Makalah yang disusun oleh ilmuwan dari Universitas Nebraska, juga menemukan tingkat konsentrasi virus yang sangat tinggi di udara dalam kamar rumah sakit setelah pasien yang terinfeksi virus Corona telah pergi.
Selain itu, jejak virus Corona juga ditemukan di koridor rumah sakit di luar kamar pasien, di mana petugas medis masuk dan keluar. Penemuan ini juga menyoroti pentingnya pakaian pelindung bagi petugas kesehatan.
Catatan Redaksi: Jika anda merasakan gejala klinis awal COVID-19 seperti batuk, bersin, demam, dan kesulitan bernapas, untuk memastikannya atau mengetahui informasi yang benar perihal virus ini bisa menghubungi nomor hotline Posko KLB Dinkes DKI, baik melalui sambungan telepon maupun Whatsapp: 081388376955. Sementara, untuk nomor kegawatdaruratan dapat menghubungi 112 atau 119.
Bagi masyarakat di luar Jakarta, bisa menghubungi nomor hotline Kementerian Kesehatan RI di 021-5210411 atau nomor 081212123119.
Pencegahan penyebaran Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang efektif adalah rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Hand sanitizer dengan kadar alkohol 70-80 persen adalah alternatif.
AYO BACA : Simak, 3 Tipe Corona dan Kecepatannya Menyebar di Dunia

Share this article
Para ilmuwan di Wuhan, China, telah menganalisis sampel udara dari berbagai bagian di dua rumah sakit. Hasil menunjukkan bahwa virus tidak terdeteksi kecuali di daerah dengan manusia yang berjubel.