AYOJAKARTA.COM-- Laga berdarah Arema vs Persebaya mencatatan rekor sebagai laga paling mematikan peringkat kedua sepanjang sejarah di dunia.
Diketahui, laga Arema vs Persebaya pada Sabtu, 1 Oktober 2022 di Stadion Kanjuruhan Malang telah mengakibatkan 127 korban meninggal dunia.
Puluhan korban meninggal di dunia dalam stadion Kanjuruhan, dan lainnya di RS. Bahkan hingga kini, masih banyak korban yang mendapat perawatan di RS.
Tragedi Kanjuruhan ini akhirnya menjadikan laga Arema vs Persebaya ditetapkan menjadi salah satu laga berdarah dengan jumlah kematian terbanyak di Indonesia.
Bahkan, tragedi ini disebut sebagai laga paling mematikan nomor 2 di dunia. Peringkat ini menggeser Accra Sports’Stadium Disaster di Accra, Ghana yang memakan korban sebanyak 126 dan berada di urutan kedua pada tahun 2001 lalu.
Dilansir dari priceonomics.com pada artikel yang berjudul The Deadliest Soccer Matches in History dilampirkan data-data dari pertandingan dan jumlah korban jiwa dari insiden mematikan yang ada di dunia tersebut.
Dari data itu, laga mematikan dengan banyak korban jiwa adalah laga yang terjadi di Lima Peru.
Estadio Nacional Disaster di Lima, Peru itu memakan korban jiwa sampai 328 orang pada 24 Mei 1964.
Sementara pada peringkat kedua sebelumnya adalah Accra Sports’Stadium Disaster di Accra, Ghana yang memakan korban sebanyak 126 pada 9 Mei 2001.
Kemudian peringkat ketiga sebelumnya ada Hillsborough Disaster, Sheffield, England dengan korban 96 orang, pada 15 April 1989.
tragedi itu membuat berbagai pihak mencari tahu di mana letak kesalahannya.
Diketahui bahwa ada aturan FIFA yang menyatakan bahwa penggunaan gas air mata dan senjata api dilarang untuk mengamankan massa.
Diketahui juga bahwa sebelumnya pertandingan ini diajukan untuk diubah jadwalnya ke waktu sore, tetapi pada akhirnya berlangsung pada pukul 20.00 WIB.
Seorang pengguna twitter dengan nama @ahmadshbrn_ mencoba mengemukakan pendapatnya.
Baca Juga: Viral Voice Note Aremania Beri Kesaksikan Tragedi Kanjuruhan Malang, Ini yang Terjadi Sebenarnya
“Kalau soal siapa yang salah, jelas. Semuanya salah,” tulisnya.
“Salah @sports.indoesiar karena jam tayang laga dengan intensitas tinggi digelar di malam hari,” ujarnya.
“Salah Aremania yang turun ke lapangan pasca kekalahan. Salah @divisihumaspolri yang menembakkan tear gas ke area tribun penonton yang masih dalam keadaan ramai padat,” tambahnya.
Baca Juga: Hormati Korban Tragedi Kanjuruhan, Bendera Setengah Tiang Berkibar di Markas Besar FIFA
Mengenai siapa yang bertanggung jawab atas insiden ini secara keseluruhan, Arema FC sudah mulai membuka suara dan akan memberikan tanggung jawabnya.
"Arema FC menyampaikan duka mendalam atas musibah di Kanjuruhan. Manajemen Arema FC turut bertanggung jawab untuk penanganan korban baik yang telah meninggal dunia dan yang luka-luka," ungkap Ketua Panpel Arema FC, Abdul Haris.

Share this article
Arema FC vs Persebaya di stadion Kanjuruhan menjadi Laga Mematikan Urutan Kedua di Dunia, Di Bawah Laga Peru dengan Korban 328 Jiwa